Tanggal Hari Ini : 20 Aug 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Nanang Kristanto, Kreativitas Tanpa Batas
Jumat, 10 Agustus 2018 03:12 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Industri kreatif kini menemukan momentumnya. Tidak mengenal usia dan jenis kelamin, juga tidak mengenal kebangsaan, dan dari alumni mana ia berasal. Bisnis kreatif hanya mengenal manusia-manusia kreatif yang mampu menghasilkan karya karya kreatif  yang akan menjadi pemenangnya.

Nanang Kristanto (36), seorang pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang dengan segala keterbatasannya mamberi inspirasi kepada kita bahwa kemauan, semangat yang tinggi, serta bersungguh-sungguh dengan karya kreatifnya akan menghasilkan karya besar, yang bukan saja memberikan kebanggaan tetapi juga penghasilan yang layak.

Kisahnya serasa memberikan denyut baru bagi siapa saja yang mengeluhkan tentang minimnya pekerjaan, sedikitnya peluang kerja, hingga susahnya mencari uang. Bagi Nanang, begitu ia akrab dipanggil, kreatifitas akan mengalirkan uang.

Perjalanan hidup Nanang agak dramatis. Ia cacat sejak kecil. Kakinya lumpuh, namun memiliki semangat dan jelajah yang luas melampaui jejak-jejaknya. Dengan keahliannya sebagai webdisainer Nanang bukan saja telah menjadi seorang lelaki mandiri, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja bagi 7 orang karyawannya. Kini usahanya bertambah, di berbagai bidang, lebih dari 5 bidang usaha. Terakhir ia memantapkan diri menjadi produser film-film pendek yang pasarnya sedang bagus-bagusnya.

Riwayat masa kecil kehidupan Nanang tak semanis cerita anak kecil yang hidup serba cukup. Orangtuanya justru sangat khawatir, maklum cacat akibat lumpuh dikedua kakinya menggores rasa iba dan menyangsikan keberlanjutan masa depannya.

“Sejak kecil, orangtua saya selalu khawatir tentang saya. Jika sekolah saya selalu digendong, atau dibonceng naik kendaraan bermotor. Selalu diawasi. Maklum kaki saya lumpuh. Saya tidak dapat pergi sesuka saya. Namun hati saya ingin pergi kemanapun yang saya suka,” ujar Nanang mengenang masa lalunya.

Nanang Kristanto, Kreativitas Tanpa Batas, iqro, publising film, perfilman indonesia

Dilecehkan, dan dianggap sebagai manusia yang tidak memiliki masa depanpun sering ia terima. Dalam bergaul, banyak orang yang memperkirakan ia memiliki masa depan suram (madesu). Kenangan yang menyakitkan pernah ia lakoni dan terkenang hingga kini. Ketika masa remaja, saat memasuki kelas 3 SMA di Aliah Negeri Banyuwangi, ia pernah mencintai seorang perempuan dan mengaguminya. Sebuah perasaan yang sebenarnya lumrah dan biasa saja, maklm usia puber. Cilakanya yang ditaksir Nanang adalah anak seorang pejabat di kota Banyuwangi. Batinnya tetap bersikukuh memiliki rasa senang dan cinta, tetapi apalah daya dengan keterbatasan yang ia miliki.

Beruntung teman sekolah yang ia taksir ini tak menampik. Rasa suka kepadanya tak bertepuk sebelah tangan. Tetapi keluarganya merasa risih jika anak perempuannya berteman dengan seorang yang lumpuh kaki seperti diri nya. Hingga akhirnya kata-kata yang terlontar dari orangtua temannya itu ia dengar sendiri : “Bagaimana mungkin kamu memiliki pacar seorang yang lumpuh, menolong dirinya sendiri saja tidak bisa, bagaimana harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar ibu anak itu yang terdengar seperti geledek di siang hari.

Mendengar hal itu, batin Nanang menangis. Ia sadar dan memakluminya. Ia menyadari dengan keadaan yang ia miliki. Nanang tidak dapat memaksa dan meyakinkan lebih jauh dari apa yang ia miliki saat itu. Namun, hal yang membahagiakannya adalah wanita yang ia kagumi itu selalu membesarkan hatinya, menghiburnya. Ia berjanji tetap menerimanya saat bertamu di rumahnya, meskipun orangtuanya selalu melarangnya. “Jadilah laki-laki. Kamu pasti bisa. Seorang laki-laki itu betanggungjawab kepada keluarganya, menjaga keluarga, mampu menafkahi keluarga, serta memiliki rumah sendiri,” ujarnya.

Kata-kata itu membekas dibenak Nanang. Terpatri kuat. “Meskipun saya lumpuh, saya ingin membuktikannya. Saya ingin menjadi seorang laki-laki!,” teriak Nanang membuncah kala itu.

Usai lulus sekolah Aliah di Banyuwangi, hubungan Nanang dengan teman wanitanya terputus. Maklum saat itu belum ada handphone. “Teman saya diajak pindah ke suatu kota di luar Jawa. Orangtuanya memaksanya untuk memutus hubungan dengan saya. Saya kehilangan, saya seperti orang yang tidak memiliki arti. Namun pesannya selalu saya ingat, menjadi penyejuk di tengah retaknya hati. Jadilah lelaki,” ujar Nanang.

Ditengah kegamangan dan rasa frustasi, ada kesadaran baru yang ia rasakan. Ia ingat kalimat pesan temannya, Jadilah laki-laki sejati. Semenjak itulah kesadarannya muncul. Semula ia yang malas untuk melanjutkan kuliah, seperti tiba-tiba bangkit ingin kuliah. Nanang juga ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia ingin menjadi lelaki sejati.

Kepergiannya ke kota Yogyakarta sengaja Nanang lakukan karena ia ingin mencari universitas yang jauh dari kotanya. Ia ingin menghilangkan jejak dan melupakan pengalaman pahit yang pernah dirasakan di kotanya, Banyuwangi. Ia juga ingin menjauh dari kotanya agar ia bebas, bebas menjelajah kemanapun ia pergi.

Di Stimik Akakom Yogyakarta, Nanang terpikat melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kuliah di jurusan yang ia suka, jurusan Teknik Komputer. Alasannya kakinya yang lumpuh tidak menjadi halangan untuk bekerja di bidang itu.

Nanang Kristanto, Kreativitas Tanpa Batas, iqro, publising film, perfilman indonesiaSaat menuju kota Yogyakartapun ia tidak mau ditemani oleh siapapun. Ia ingin membuktikan sendiri, termasuk mendaftar kuliah, mencari kost-kostan, hingga memenuhi kehidupan sehari-hari. “Ternyata aku bisa,” cetusnya. Ternyata apa yang dikhawatirkan oleh kedua orangtuanya selama ini tidak terbukti. Nanang, dengan keterbatasan yang ada ternyata bisa mandiri. Bahkan kuliahnya bisa lulus empat tahun.

Lulus kuliah, tak menunggu waktu yang lama ia akhirnya diterima bekerja di sebuah maskapai penerbangan di Yogyakarta, sebagai staf biasa. Seiring berjalannya waktu ia kemudian diangkat menjadi advertising manajer di Maskapai Penerbangan Bouraq Indonesia Airlines, Cabang Yogyakarta.

Namun dampak krisis ekonomi yang berlangsung sejak tahun 1997-1999 terus menghantui industry penerbangan, sehingga kondisi perusahaan tempatnya bekerja semakin melemah. Ia yang awalnya sebagai advertising manager merangkap bekerja apa saja, termasuk dibagian IT karena sebagaian karyawan sudah banyak yang dirumahkan.

Setahun kemudian ia dipindahkan ke kantor Jakarta. Di Jakarta Nanang khusus diminta menangani bagian Informasi dan Teknologi (IT) di perusahaan tersebut. Namun karena krisis masih menghebat, kondisi perusahanpun semakin lemah, pesawat makin berkurang, karyawan semakin banyak yang meninggalkan perusahaan, hingga keadaan yang paling pahit pernah ia rasakan. Perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ditengah belitan hidup yang keras, serta biaya makan serta biaya indikost di Jakarta, sementara gaji sudah tidak mengucur lagi, Nanang memutuskan untuk pindah bekerja di perusahaan disain & komunikasi visual. Ia ditugaskan sebagai disainer, tugasnya membuat disain pulpen.

Sembari bekerja sebagai disainer pulpen, malamnya Nanang masih menerima pekerjaan pembuatan website. Berapa harga pembuatan website, saat itu dibayar semaunya yang memberi order pekerjaan. Tetapi dari sanalah ia belajar menjadi webdisainer secara professional. Klienpun lama-lama semakin banyak, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Lima kali pengajuan diri saya ditolak, dengan alasan perusahaan sangat membutuhkan. Tetapi ketika ia utarakan kepada pimpinannya alasannya ia keluar agar ia mampu mandiri, baru keinginannya diluluskan.

Setelah bekerja mandiri, dengan membuka website www.nanangkristanto.com, yang melayani pembuatan website, graphic design dan multimedia, ia mulai menemukan kecintaan dan harapan. Nanang kemudian mencetak brosur kecil-kecil yang ia bagikan kepada pengendara mobil di lampu-lampu merah di Jakarta atau di bus-bus patas. Banyak orang yang menyangka ia pengemis, dan diberi uang receh. Padahal hanya membagi-bagikan brosur di atas bus.

Dengan berbekal komputer Pentium 2, dengan saluran internet menggunakan Telkomnet Instant atau Flexy Home, Nanang melayani pembuatan website klien-kliennya. Kini sejak Nanang membuka usaha sendiri sudah ratusan website yang sudah ia buat.

“Saya merasa perjalanan panjang ini akan terus saya lalui. Tetapi setidaknya kini saya sudah mampu menjadi seorang laki-laki,” ujar Nanang.

Kini Nanang mulai merambah bisnis apa saja, menjadi marketer, disainer, hingga produser. Bagi Nanang sepanjang kreatifitas terus mengalir, sepanjang itu pula rezeki mengalir, baik memproduksi maupun barang-barang dan jasa, bisnis adalah membangun reputasi, membangun kepercayaan. Itulah yang dilakukan Nanang Kristanto, seorang web disainer, sekaligus pebisnis kreatif multi media ini menuturkan kepada Majalah Wirausaha dan Keuangan.

Membangun reputasi adalah menjaga kepercayaan, memberikan layanan yang terbaik, serta memiliki tanggungjawab yang optimal terhadap produk-produk karya yang dihasilkan, meskipun hanya kepada 1 (satu) orang klien sekalipun.

Konsistensi menjaga reputasi ini sangat penting bagi sorang pewirausaha karena karya-karya yang dihasilkan akan ‘berbicara’ lebih panjang dan lebih luas, dan merupakan bagian dari kegiatan promosi paling efektif.

Kini, Nanang telah melihat sendiri bagaimana sebuah reputasi mengalir dan bergulir. Sebuah kepercayaanpun yang terus berdatangan, dari klien-klien besar yang lain. Ia akan tetap berkarya besar dan menjaga kepercayaan kliennya dengan komitmen dan berjiwa besar, serta terus menjaga reputasi bisnis, produk dan jasa-jasa yang dihasilkan secara lebih optimal.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari