Tanggal Hari Ini : 18 Nov 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Mahmudi Fukumoto Mencari Mulia di Negeri Sakura
Rabu, 07 Maret 2018 06:47 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai 253.609.643 jiwa, keberadaan seorang Mahmudi Fukumoto mungkin tiada artinya. Namun jika melihat perjuangannya mencari kemulyaan hidup hingga ke negeri Sakura, jejaknya terpancar cemerlang, menjadi mercusuar bagi teladan anak-anak muda Indonesia.

Mahmudi, lahir dan besar di Desa Tanen, Rejotangan, Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. Sebuah desa yang tak ada artinya apa-apa di peta. Pun bagi Mahmudi. 

Seperti anak desa lainnya yang gamang,  karena terlindas oleh kemajuan zaman,  ia terasing di desanya sendiri. Sawah dan ladang tak lagi bisa memberikan harapan hidup, meski untuk standar yang paling minim sekalipun.

Terbawa mimpi perubahan, ia pun mengadu nasib, pergi ke Bali. Bukan mau menonton gemerlapnya hidup, tetapi mencari sebuah harapan, ingin bekerja di perhotelan.

Tak mudah bagi seseorang yang hanya berbekal ijasah Madrasah Aliyah (setingkat SLTA) dapat tembus bekerja di Bali. Setidaknya jika ingin bekerja di hotel, atau di biro travel agent harus ada bekal ketrampilan yang sepadan. Atau kalau sekedar menjadi guide pun setidaknya harus bisa berbahasa asing. Tanpa itu, Bali tak kan ramah bagi siapapun, juga bagi Mahmudi.   

Cukup lama waktu bergulir, belum juga diterima sebagai pekerja di Bali. Namun  Mahmudi tak kehilangan harapan untuk merubah nasibnya. Ia memutuskan untuk belajar bahasa Jepang, les privat kepada seorang guru bahasa dari bangsa pemilik huruf-huruf kanji yang asli,  dari negeri matahari terbit ini.   

Beberapa bulan les privat,  tak bisa-bisa juga. Dalam hatinya ia berfikir, mungkin ia tak berbakat, atau bahasa Jepang yang memang tak mudah untuk ditaklukkan.

Sang guru privat memberi saran pendek : bahasa Jepang memang rumit, tetapi belajarlah langsung, prakteklah langsung, berbicaralah langsung.

Jika belajar bahasa Jepang dengan cara biasa, sang guru les berani bertaruh,   Mahmudi tak pernah bisa-bisa.

Sang guru memiliki seorang teman, Noriko Fukumoto namanya. Ia meminta temannya bersedia menjadi relawan ‘teman bicara’ bagi Mahmudi untuk belajar bahasa Jepang.

Karena sering ketemu, siapa  sangka, Noriko luluh hatinya, dan mengajak Mahmudi untuk segera meminangnya.  

 Noriko Fukumoto, Mahmudi Fukumoto Mencari Mulia di Negeri Sakura, pengusaha sukses dari indonesia

Bukan Kisah Aladin  

Menikahi Noriko dengan kondisi seadanya, sederhana. Tanpa pesta,. Tahun 2001 pasangan muda yang bertaut hatinya pertama kali di Bali ini hijrah ke Jepang. Namun kisahnya tidak seperti Aladin, yang serba bim salabim.

Perjalanannya ke Jepang, bagi Mahmudi adalah pengalaman pertamanya naik pesawat terbang, dengan tujuan yang tak terkirakan jauhnya.

Di Jepang, Mahmudi harus mengawali hidup yang serba tak menentu : tidak memiliki pekerjaan, bahasa Jepang juga masih berlepotan, dan, di tempat yang masih terasing  ia harus menanggung hidup seorang istri.

Sekolahnya yang pas-pasan, tak menyisakan baginya keahlian yang bisa diandalkan.

Namun bukan Mahmudi kalau tidak bermental baja. Semua dicoba untuk dijalani, termasuk menjadi pekerja serabutan.

Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun diterimanya. Ingin yang lebih bonafid, sementara yang masih tersedia hanya lowongan sebagai cleaning service di sebuah hotel bintang tiga.

Tak masalah, pikirnya. Toh sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras, bahkan lebih keras. Namun yang membuat Mahmudi masgul, kepiawaiannya berbahasa Jepang tak meningkat drastic seperti yang diharapkan. Apakah bahasa Jepang memang benar-benar susah?     

Bosan sebagai cleaning service, Mahmudi memutuskan untuk keluar dan memilih bekerja di perusahaan kontruksi karena ingin mengembangkan kemampuan bahasa Jepangnya.

Jangan dibayangkan profesi Mahmudi di perusahaan ini, bukan sebagai teknisi atau kontraktor tetapi sebagai kuli bangunan.

 

Bertemu Orang Baik

Selama bekerja di perusahaan kontruksi tersebut, Mahmudi selalu bergaul dengan rekan-rekan sesama pekerja. Selain ingin belajar bahasa Jepang agar lebih lancar, ia ingin menimba pengalaman lebih banyak dari sesama temannya.

Seseorang, berusia 15 tahun di atasnya, adalah teman kerja dan juga teman diskusi Mahmudi yang menyenangkan. Seseorang itu sebenarnya adalah mantan bos di sebuah perusahaan kontruksi yang usahanya bangkrut, dan untuk menyambung hidup ia rela bekerja sebagai kuli bangunan.

Seseorang tersebut mengaku memiliki pengalaman dan jaringan, hanya modal yang tak ada. Melalui diskusi kecil, akhirnya disepakati, bahwa mereka berdua akan membentuk usaha bersama. Saat itu, yang menjadi bosnya adalah orang yang dikenalnya tersebut, sedangkan Mahmudi mendapat jabatan sebagai wakil bos, sekaligus merangkap menjadi sopirnya.

 

Hidup Mulai Berubah

Seiring berjalanan waktu, bos di perusahaan yang mereka dirikan berdua ini memasuki masa pensiun. Otomatis Mahmudi naik menjadi bos baru di perusahaan jasa kontruksi tersebut.

Sebagai seorang yang masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI)  yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan jasa konstruksi, cukup sulit bagi Mahmudi untuk mendapatkan proyek-proyek dan pekerjaan di Jepang, karena ia bukan warga negara Jepang.

Mahmudi kemudian meminta izin kepada mertuanya, apakah boleh menambahkan nama Fukumoto di belakang namanya?

Semula ia ragu mertuanya mengizinkan. Yang terjadi justru sebaliknya, sang mertua merasa tersanjung dan itu adalah sebuah penghormatan yang luar biasa baginya.

Setelah menyematkan nama lengkapnya menjadi Mahmudi Fukumoto, perjalanan usahanya di bisnis jasa kontruksi berkembang sangat pesat. Mahmudi sering mendapatkan pekerjaan jasa kontruksi dari proyek-proyek prestisius di Jepang, dengan nilai proyek yang cukup besar.

Sukses di bisnis jasa kontruksi, Mahmudi merambah ke berbagai bisnis antara lain  bisnis  travel agent, event organizer, dan berbagai bidang usaha lainnya.  

Ayah  dari Fukumoto Notisia M Cinta dan Fukumoto Rafa M Ratu ini tak menyangka bahwa cahaya kehidupannya ada di negeri Sakura, sebuah negeri yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari