Tanggal Hari Ini : 25 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Slamet Ragil, Menyiapkan Bisnis yang Mudah Dijalankan
Selasa, 06 Juni 2017 03:30 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Semakin banyak orang yang ingin berwirausaha atau ingin meningkatkan dan mengembangkan usahanya, seminar-seminar kewirausahaan selalu dipenuhi oleh para peserta. Terlebih jika narasumber yang mengisi acara seminar kewirausahaan memiliki kompetensi dan keunikan tersendiri. Pesertanya bisa membludak tak terkira. 

Slamet Riyanto adalah salah satu narasumber event Kopi Darat (kopdar) pelaku Usaha Mikro dan Kecil yang diselenggarakan oleh PT Pegadaian (Persero). Kegiatan ini berisi sharing bisnis antar pelaku usaha UMKM, edukasi pengelolaan keuangan serta pengenalan produk pegadaian, dan seminar kewirausahaan. Penyelngraannya antara lain di Kota Malang, Kupang, Probolinggo, Denpasar, dan kota -kota lainnya. Peserta yang hadir bisa mencapai ratusan orang jumlahnya. Bahkan di Kota Madiun, Jawa Timur, peserta seminar kewirausahaan mencapai 500 orang peserta.
Rani, salah satu pemilik outlet kuliner’Sego Pecel” di salah satu sudut Kota Madiun memiliki alasan untuk menyempatkan hadir di acara seminar kewirausahaan tersebut. Ia ingin mendapatkan pencerahan bagaimana mengembangkan usahanya dari satu menjadi banyak. Ia juga ingin usahanya go nasional, dan berkembang lebih luas ke berbagai daerah. “Bertemu dengan para pelaku usaha untuk sharing dan berbagi pengalaman adalah kesempatan yang langka. Saya menyempatkan untuk hadir,” ujarnya.

Slamet Ragil, Menyiapkan Bisnis yang Mudah Dijalankan, Owner, Pemilik Soto semarang, tahu gimbal, kupat magelang

Bagi Sri Sumiatun, pemilik usaha kue kering yang kini sedang giat mengembangkan usaha juga menyatakan hal serupa. Ia harus menyempatkan waktu untuk belajar terus menerus bagaimana mengembangkan bisnis. Ilmu semacam ini menurut Sri tak bisa diperoleh di buku-buku, atau bangku sekolah, kita harus datang sendiri dan bergaul dengan sesama pelaku bisnis.
Saat pembicara seminar yang ditunggu-tunggu datang, Slamet Riyanto, yang memiliki nama keren Slamet Ragil ini memperkenalkan diri. Ia mengaku sudah malang melintang bekerja sebagai karyawan di berbagai perusahaan. Usai lulus di Akademi Farming Semarang tahun 1985, Slamet bekerja di perusahaan pakan ternak selama 5 tahun, kemudian pindah lagi bekerja sebagai salesman Baygon. Setelah bekerja 6 bulan, ia dipercaya sebagai supervisor penjualan untuk wilayah Yogyakarta yang meliputi area penjualan kota Yogyakarta, Magelang, Purworejo, kebumen, Wonosobo dan Temanggung. Lima tahun berikutnya ia dipindah sebagai supervisor produk consumer good, berpindah lagi bekerja sebagai supervisor di perusahaan yang berbeda selama 4 tahun lamanya. Jika ditotal, selama 20 tahun ia telah habiskan waktunya sebagai karyawan di perusahaan milik orang lain.
Awal-awal ia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan yang terbilang bonafide tersebut, orangtuanya pernah menyarankan agar menekuni dunia wirausaha seperti yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Namun akal sehatnya waktu itu mengatakan menjadi karyawan perusahaan bonafide terlihat lebih keren. Namun 20 tahun waktu yang telah ia habiskan untuk mengabdi di perusahaan orang bukan kesejahteraan yang ia peroleh, namun hidup pas-pasan hingga usia menjelang tuanya. Ia terus berfikir apa yang dapat dilakukan setelah pensiun dan lebih sejahtera.?
Atas dorongan orangtuanya, April 2007, Slamet memutuskan untuk pensiun lebih awal dan memilih membuka usaha sendiri di bidang kuliner yang telah digeluti dan dirintis oleh kedua orangtuanya.
Tidak perlu waktu yang lama untuk memutuskan usaha di bidang kuliner dengan berjualan Soto Ayam khas Semarang, karena ibunya telah membuktikan sukses berjualan soto ayam khas Semarang selama hampir 30 tahun lamanya. Ia kemudian mengajak istrinya untuk belajar secara khusus membuat dan mengelola soto ayam khas Semarang.
Soto ayam Semarang pada dasarnya mirip Soto Kudus, yaitu variasi dengan kuah bening tanpa santan, dengan sedikit suwiran ayam, soun, tauge, dan irisan daun bawang lalu ditaburi bawang goreng, brambang goreng dengan menu pendamping seperti sate kerang, sate telur puyuh, sate ayam, tempe goreng, sate udang goreng, bergedel dan lain sebagainya.
Untuk mempelajari resep warisan turun temurun yang diperoleh dari orangtuanya, Slamet menugaskan sang istri untuk secara khusus belajar resep soto ayam khas Semaran ini. Resep soto ayam khas Semarang ini sangat khas, yaitu kuah sotonya tidak menggunakan santan, tetapi kuahnya bening dan segar. Rahasia lainnya terletak pada proses pengolahan kaldunya, karena proses memasak daging dan tulang ayam dibuat benar-benar terenduksi atau keluar dalam air rebusan sehingga aroma dan rasanya meresap dalam kuah.
Selain itu proses pembuatan bumbu rempah-rempahnya terdiri 14 jenis dan digongso (ditumis hampir 4 jam), proses persiapan pembuatan bumbu hampir membutuhkan waktu 6 jam lamanya. Benar-benar meresap dalam bumbu. Bumbu yang sudah jadi ini bisa awet selama hampir 3 bulan, dan dapat dibawa kemana-mana, bahkan ke luar negeri sekalipun.
Di lokasi usaha yang pertama kali ia dirikan, sebuah outlet soto ayam khas Semarang yang berada di Jalan Raya Blabak KM 9 sebelah Balai Desa Mungkid, Kabupaten Semarang, Slamet beserta istrinya mengembangkan bisnis kuliner soto ayam khas Semarang.
Untuk memberikan variasi menu bagi para pelangganya ia juga mengembangkan tahu gimbal, dan Kupat tahu Magelang dengan brand ” Pak Slamet Ragil”. Tahu gimbal kas Semarang adalah tahu yang digoreng, ditambah gimbal (peyek udang) yang di rajang-rajang kemudian disajikan dengan campuran kuah ditambah petis dan ditaburi rajangan kobis mentah, atau kobis yg digoreng setengah matang ditambah telur ceplok. Menu andalan lainnya di outlet restonya adalah Kupat Tahu khas Magelang dan Dawet Hitam khas Purworejo.
Di berbagai seminar kewirausahaan, Slamet selalu menyarankan kepada para peserta untuk segera menyiapkan diri menjadi pewirausaha. “Usaha apa saja, yang penting mengetahui ilmunya,” cetusnya.

Slamet Ragil, Menyiapkan Bisnis yang Mudah Dijalankan, Owner, Pemilik Soto semarang, tahu gimbal, kupat magelang

Bagi yang ingin berbisnis kuliner khususnya kuliner soto ayam khas Semarang, Slamet mengulurkan tangan untuk bekerjasama.
“Anda ingin bisnis kuliner soto ayam khas Semaran, anda tinggal beli bumbu inti saja soto ayam semarang berupa instan nanti diberi cara pembuatan sampai siap saji. Dijamin halal dan pasti bisa. Kalau anda punya modal ada tempat untuk jualan saya siap bantu dengan sistim BO ( Business Opptunity) kemitraan atau lesensi, diusahakan dikelola sendiri atau orang –orang yang betul-betul mengerti tentang kuliner,” ujarnya.
Dengan pola kemitraan bisnis yang ditawarkan Slamet, calon pebisnis atau calon pewirausaha tidak memulai bisnis dari nol, sehingga terhindar dari kebangkrutan. Bagi Slamet, jika ingin sukses berbisnis, maka bisnis yang dijalankan haruslah simple dan mudah dijalankan.
“Mari kita ubah nasib kita, dari karyawan menjadi wirausahawan. Jika kita sukses berwirausaha kita telah menjadi manusia merdeka yang sesungguhnya, manusia yang terbebas dari bos, dengan menjadi bos sendiri,” ujarnya.
Enaknya bermitra dengan Slamet Ragil adalah keuntungan 100% milik hak mitra, tanpa royalty fee, bebas franchise fee dan kontrak nama selamanya. Agar bisnis mitra sukses maka mitra harus tetap menjalankan SOP (Standart Operation Procedure) yang telah ditetapkan dengan komitmen yang tinggi.
Syarat menjadi mitra Slamet Ragil sangat sederhana, yaitu mau bekerja keras dan aktif menjalankan bisnis ini, serta paham tentang keuntungan dan resiko berbisnis, wajib membeli bumbu inti soto dari pusat soto ayam khas Semarang, serta harus mengikuti training cara meracik dan menyajikan soto ayam semarang yang pakem dank has. Mudah bukan?
Biaya kemitraan juga tidak mahal, hanya Rp6 juta, dari situ mitra akan mendapatkan pelatihan koki masak di Magelang selama 7 hari–10 hari, mendapatkan lisensi sebagai cabang resmi dari Soto Semarang Pak Slamet Ragil, dan mitra usaha dapat memegang kontrak penggunaan merek tersebut seumur hidup oleh mitra usaha. Selain itu, mitra tidak perlu membayar biaya royalti dalam kerjasama ini.
Untuk peralatan resto, Slamet mengatakan, mitra bebas membeli sendiri. Namun untuk mangkuk soto harus yang berciri mangkok soto semarang. Untuk penyediaan mangkuk, Slamet dapat membantu mitra yang memerlukan. Untuk menyediakan perlengkapan resto, mitra biasanya memerlukan dana sebesar Rp1,5-3 juta lebih.
Untuk survei lokasi, biaya dibebankan kepada mitra. Slamet akan melakukan pengawasan selama tiga hari pertama, untuk membantu operasional dan menjaga standar kualitas. Soal hitungan usaha, omzet usaha diproyeksikan minimal Rp25 juta per bulan. Setelah dikurangi sewa tempat, biaya bahan baku, biaya operasional dan gaji pegawai diharapkan mitra masih mendapatkan laba bersih minimal Rp2-3 juta per bulan. Dengan begitu, balik modal bisnis ini tak lebih dari tiga bulan. Terlebih jika usaha semakin ramai dan variasi menu semakin banyak tentu akan memberikan keuntungan yang lebih besar dan lebih banyak.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari