Tanggal Hari Ini : 16 Dec 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Butet Kartaredjasa Mengagumi Rustono
Selasa, 23 Agustus 2016 02:23 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Pesohor asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa mempublikasikan foto pertemuannya dengan diaspora asal Indonesia di Jepang, Rustono, di akun fesbuknya beberapa waktu lalu.
Tidak dijelaskan dalam rangka apa Butet Kartaredjasa bertemu dengan Rustono (48), namun dari foto yang dilansir tersebut Butet mengagumi perjuangan Rustono hingga menjadi entrepreneur sukses di Negeri Sakura. Lebih heboh lagi produk yang dikelola dan dikembangkan Rustono di Jepang adalah produk yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, yaitu tempe.
“Mereka berjuang dari nol, berguru kepada puluhan pembuat tempe di Jogyakarta dan di sentra-sentra Tempe di Jawa Timur. Sekarang di Jepang sepotong tempe karyanya dengan berat 200 gram dijual ¥350 setara Rp.45.500. Saban 2 hari mereka bikin 1 ton tempe. Dan beberapa bulan mendatang, jika pabriknya yang dibikin dari susunan kontainer udah dioperasikan, akan mampu memproduksi 10 ton tempe saban 5 hari. Kira-kira hasil bersihnya cuma Rp. 1,3 miliar per 5 hari. Uasuuuuuu ta? Dia bilang,”Saya ingin, dengan tempe Indonesia memberikan sumbangan untuk dunia, “ tulis Butet di akun fesbuknya.

Kisah perjalanan Rustono
Butet Kartaredjasa  Mengagumi  Rustono, tki sukses di jepang, Tempeh, Strategi Promosi, Menduniakan TempeSukses Rustono memang tidak datang begitu saja. Ada kisah panjang yang menjadi latarnya. Antara kebetulan dan ikhtiar, bertemu momentum yang tepat bagi dirinya.
Kisahnya bermula sekira tahun 1997 saat Rustono bekerja di sebuah hotel di Jakarta, bertemu dengan tamu hotel yang sedang berlibur di Jakarta. Tamu tersebut adalah Tsuruko Kuzumoto, seorang pegawai bank dari negeri Sakura.
Seperti sebuah suratan takdir, Tsuruko terpikat dengan keluguan pria asli Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, yang memiliki tubuh yang tegap ini.
Singkat cerita, keduanya akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius ke jenjang perkawinan. Tsuruko berharap, Rustono mau diajak pulang ke Jepang. Namun ada syarat yang disampaikan Rustono pada Tsuruko, agar di Jepang ia diperkenankan untuk membuka usaha sendiri. Syarat yang tidak terlalu berat bagi Tsuruko. Tsuruko pun menyetujuinya, dan mendukungnya.
Untuk pertama kalinya Rustono bepergian jauh hingga ke negeri seberang. 1 Oktober 1997 ia memulai hidup baru di negeri sang istri. Ia berupaya mencari peluang usaha yang mungkin bisa dilakukan. Tak mudah untuk menentukan usaha apa yang tepat untuk dijalankan.
Untuk mengetahui usaha apa yang tepat, ia melakukan riset kecil-kecilan di sekitar tempat tinggalnya, di Shigaken Otsushi Hachiyado, Shiga, Jepang. Dia ingin tahu bisnis apa yang belum ada dan memungkinkan untuk dijalankan.
Ia berkeliling kota dengan bersepeda untuk mencari tahu peluang-peluang bisnis yang mungkin bisa dijalankan. Ia melihat tahu sudah ada di pasaran, tetapi tempe sepertinya belum ada di Jepang. Setelah yakin belum ada orang yang membuka usaha tempe, Rustono berdiskusi dengan sang istri untuk berencana membuka usaha pembuatan tempe. Ide sudah bulat, membuat tempe, dan sang istri mendukungnya.
Sebelum menjalankan usaha membuat tempe, Rustono ingin belajar dulu, dan menimba ilmu bagaimana cara mengelola sebuah usaha yang baik, mulai dari menyiapkan bahan-bahan produk hingga manajemen usahanya. Untuk tujuan menimba ilmu ini ia melamar bekerja di sebuah perusahaan roti di kotanya.
Di perusahaan roti ini, Rustono menghabiskan waktu 3 tahun untuk belajar. Banyak yang ia pelajari, mulai dari etos kerja, kualitas produk, manajemen bisnis hingga pemasaran.
Sambil bekerja, Rustono berupaya mewujudkan impiannya untuk membuka usaha tempe. Dia belajar membuat tempe dari internet, berkali-kali mengikuti praktek membuat tempe dari yutube, namun berkali-kali ia gagal. Sampai akhirnya ia mendapatkan formula yang tepat untuk tempe yang akan diproduksinya.
Setelah 4 bulan melakukan ujicoba membuat tempe dari panduan internet, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Berkali-kali gagal dan harus mencoba lagi. Begitu ia berhasil membuat tempe seperti yang diinginkan, Rustono memutuskan keluar dari pabrik roti dan fokus mewujudkan mimpinya membuka usaha tempe.
Awal tahun 2000, tempenya sudah mulai diproduksi. Ia berkeliling kota kanvaser untuk menawarkan tempe ke hotel-hotel dan restaurant terdekat. Namun tempenya tidak dilirik oleh pengelola hotel dan restaurant. Tempe hasil produksinya belum diminati.
Meski mendapat berbagai penolakan dari hotel dan restaurant, Rustono tidak patah semangat. Ia tetap memproduksi dan menawarkannya ke calon pelanggan. Bahkan ia tak segan untuk door to door ke toko-toko yang menjual bahan makanan agar tempenya dipajang di rak toko tersebut. Ia kekeh tempe hasil produksinya harus dipromosikan, dan dikenal oleh masyarakat Jepang. Jika tidak ada yang membeli tempe itu dikonsumsi sendiri.

Butet Kartaredjasa  Mengagumi  Rustono, tki sukses di jepang, Tempeh, Strategi Promosi, Menduniakan Tempe

Berkali-kali ia mencoba memasarkan. Hasilnya belum seperti yang diharapkan. Ia berfikir tempe hasil produksinya belum diminati masyarakat, mengapa kurang diminati?. Mungkin ada yang salah dengan cara pembuatannya, pikirnya.
Suatu hari ia meminta izin kepada istrinya agar diperkenankan pulang ke Indonesia. Ia mau belajar cara membuat tempe yang enak dan disukai orang di Indonesia. Maka iapun mendatangi dan berguru kepada para pembuat tempe di seantero Jawa, mulai dari Semarang, Jogyakarta hingga ke pelosok wilayah Jawa Timur.
Sesampainya di Jepang, Rustono memulai lagi usaha tempe dengan resep dan cara baru. Ia juga tidak tanggung-tanggung memulainya. Ia ingin segera memulai membangun pabrik tempe dengan perlengkapan dan peralatan standar yang memadai, dan sesegera mungkin memproduksinya.
Ditengah musim dingin, tak lazim bagi masyarakat Jepang bekerja di luar ruangan, terlebih membangun bangunan. Namun karena hasrat Rustono ingin agar pabriknya segera berdiri ia tak mengiraukan udara musim dingin yang menusuk-nusuk tubuhnya.
Rupanya, aktivitas Rustono yang nekat membangun pabrik pada musim dingin, yang tak lazim bagi masyarakat Jepang ini menarik perhatian seorang wartawan yang lewat di sekitar rumahnya. Wartawan lokal itu heran melihat Rustono mendirikan bangunan di musim dingin. Dia lalu mewawancarai Rustono dan menuliskan hasil wawancara di medianya.
Ia mengaku berkat tulisan wartawan itulah ia mulai mendapat order dari restoran dan hotel yang pernah ia tawari tempe. “Banyak yang meminta datang dan meminta saya membawa tempe,” ujarnya.

Tempeh
Butet Kartaredjasa  Mengagumi  Rustono, tki sukses di jepang, Tempeh, Strategi Promosi, Menduniakan TempeTempeh adalah merk tempe hasil produksi pabrikan yang didirikan Rustono di Jepang. Berbeda dengan produk tempe yang dijual di Indonesia, Tempeh dikemas dalam plastik higienis disertai dengan kandungan gizi yang tertera dalam kemasannya.
Rustono semakin yakin dengan usaha yang digelutinya, yaitu memproduksi tempe setelah melihat restaurant dan hotel-hotel banyak yang memesannya. Rustono juga semakin yakin tempe produksinya bakal memasyarakat di Jepang.
Semakin besar gairah Rustono untuk membesarkan usaha tempe. Ia semakin bersemangat dan semakin giat bekerja. Pesanan semakin bertambah setiap harinya, dan ia pun semakin kuwalahan melayaninya. Pelanggan Rustono tersebar mulai dari Hokaido hingga Okinawa. Untuk melayani pelanggan yang terus bertambah ia menambah jumlah karyawan yang semula hanya beberapa orang, ditambah menjadi lebih banyak. Bahkan istrinya yang semula adalah seorang banker memilih membantu Rustono suaminya mengelola usahanya.

Strategi Promosi
Selain diuntungkan oleh pemberitaan wartawan lokal untuk pertama kalinya, Tempeh Rustono dikenal masyarakat karena promosi dari mulut ke mulut. Bahkan Tempeh kini sudah diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Korea.
Meski kini semakin banyak bermunculan pabrik tempe di Jepang, namun Rustono tidak khawatir, karena Tempeh sudah lebih dulu dikenal oleh masyarakat, dan memiliki pelanggan loyal karena rasanya berbeda dengan tempe lokal lainnya.

Menduniakan Tempe
Mimpi Rustono untuk menduniakan tempe mungkin akan segera menjadi kenyataan. Saat ini, pabrik tempe yang didirikan Rustono sudah mampu menghasilkan tempe yang lebih lezat, lebih enak karena menggunakan air alam yang lebih jernih dan segar dan telah diekspor ke beberapa negara.
Rustono telah berhasil men-tempe-kan Jepang dan jika tidak ada aral yang melintang, makanan khas kaya protein asal Indonesia ini akan segera mendunia. “Saya ingin tempe menjadi makanan yang mendunia,” ujarnya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari