Tanggal Hari Ini : 25 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
KREATIFITAS DI SELEMBAR LURIK BATIK
Senin, 20 Mei 2013 13:57 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Bagi orang Jawa, kain lurik yang bermotif  garis-garis vertikal memanjang dengan corak warna kecoklatan merupakan salah satu kain untuk bahan baju yang bernuansa sa-ngat ‘Jawa’. Bahkan kain lurik termasuk salah satu jenis kain di Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masih bernuansa tradisional, konservatif, dan klasik yang  tetap digunakan hingga kini. Namun kini penggunaannya sangat terbatas, hanya untuk acara-acara tertentu saja, dan sebagian besar digunakan orangtua.
    Generasi muda Jawa mulai enggan menggunakan kemeja atau baju yang terbuat dari bahan kain tenun lurik. Alasannya macam-macam, mulai dari bentuknya yang jadul (jaman dulu) banget hingga motifnya yang monoton, serta warnanya yang itu-itu saja. Padahal kain lurik pernah berjaya dan menjadi kebanggaan masyarakat Jawa.
    Di Dusun Jalinan, Kedungan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Yogyakarta terdapat sentra industri  kerajinan pembuatan kain lurik yang dikerjakan dengan memanfaatkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sentra industri kain lurik ini telah terkenal sejak tahun 1950an dan mengalami kemunduran karena adanya serbuan kain-kain dengan produk pabrikan berwarna-warni degan harga murah.
    Setelah sekian lama mengalami kemunduran, ada upaya pemerintah kabupaten Klaten untuk menghidupkan kembali industri kain lurik yang pernah menjadi produk primadona bagi kabupaten Klaten. Langkah-langkah kebijakan ditempuh oleh pemerintah kabupaten diantaranya dengan kewajiban menggunakan baju dari bahan kain lurik bagi seluruh pegawai di lingkungan Pemda Kabupaten Klaten setiap hari Kamis. Kebijakan ini sangat membantu bangkitnya  kembali industri tenun lurik di kawasan ini.

Motif Lurik
    Kain Lurik dari Pedan dibuat dengan menggunakan bahan benang katun yang ditenun dengan alat tenun tradisional (ATBM). Sedangkan untuk proses pewarnaan dimulai dari benangnya, sehingga setelah benang ditenun sempurna maka warna kain depan dan belakang adalah sama. Co-rak-corak dari lurik sendiri cenderung vertikal memanjang. Namun corak tersebut tidak hanya monoton begitu saja. Akhir-akhir ini banyak desain-desain menarik yang coba dikembangkan oleh para pengrajin dengan desain motif yang tidak selalu berbentuk vertikal lurus dan memanjang namun ada aplikasi-aplikasi lain yang membuat kain lurik ini kian menarik. Salah satu pengembangan dari kain lurik adalah menambahkan batik di atas kain lurik tersebut, sehingga terciptalah Lurik Batik yang unik sekaligus memikat.
    Salah satu usaha yang dikembangkan Debora Rachmi Karuniawati (45) bersama keluarga di bawah naungan UD Sumber Sandang adalah memproduksi kain lurik kombinasi. Ada kombinasi lurik dengan ikat motif khas Lombok, kombinasi lurik dengan kain ikat khas NTT, kombinasi lurik dengan Ulos  khas Batak, dan sebagainya.

Motif Lurik , Merambah ke Dunia Fashion, Peran BRI , produksi fashion yang terbuat dari bahan-bahan kombinasi


    Debora sebagai generasi ketiga dari usaha kerajinan kain tenun lurik yang telah dikembangkan pendahulunya memiliki kewajiban untuk membangun kembali dan mengembangkan usaha yang ada. Salah satu caranya adalah dengan melakukan interaksi, inovasi dan membangun krea-tifitas dari produk lurik. Bersama kakak dan adiknya, Debora mengembangkan cita-cita orangtuanya untuk memasyarakatkan lurik menjadi produk yang diminati kembali masyarakat.
    “Kami membuat kombinasi Lurik Jawa dengan Ulos dari Batak, juga kombinasi dengan Kain Ikat asal Nusa Tenggara Timur yang kuat warnanya, serta kombinasi dari jenis kain ikat dari daerah lainnya. Bahkan produk fashion yang terbuat dari kombinasi kain lurik dan batik telah menjadi fashion yang cukup digandrungi anak muda saat ini,” ujarnya.  
    Menurut Debora, sejak adanya rekayasa alat ATBM yang semula hanya dapat membuat lurik saja, dan kini dapat mengerjakan tenun kombinasi antara lurik dengan jenis motif lainnya seperti motif dari NTT, Ulos, Bali, Lombok, dll, maka kreasi kain tenun lurik yang dihasilkannya lebih variatif. Bahkan kain-kain tenun kombinasi seperti ini kini semakin banyak permintaan dari luar daerah.

Merambah ke Dunia Fashion  
    Bukan hanya memproduksi kain lurik kombinasi, UD Sumber Sandang kini juga memproduksi fashion yang terbuat dari bahan-bahan kombinasi yang didisain dengan mempertimbangkan estetika dan kecantikan sebuah fashion. Fashion-fashion ini memiliki ciri khas kombinasi antara lurik de-ngan bahan kain ikat dari daerah lain di Indonesia. Meski belum menjadi tren, namun Debora yakin masyarakat akan kembali mencintai produk-produk fashion  dengan motif dan disain-disain yang unik dan bahan-bahan yang ber-corak etnik dari Indonesia.   
    Saat ini UD Sumber Sandang memiliki 50 orang karyawan, terus mengembangkan dan mempromosikan tenun ikat lurik kombinasi ke berbagai daerah. Harga selembar kain tenun lurik kombinasi bervariasi, dari mulai Rp100ribu, Rp250ribu hingga kain lurik kombinasi sutera dengan harga Rp1,5juta.
 
Peran BRI
    Kreatifitas dan inovasi terus dilakukan. Dukungan dan kesempatan untuk meningkatkan peran produk anak bangsa sudah banyak dilakukan. De-bora tak bisa mengesampingkan peran BRI dalam perkembangan usaha UD Sumber Sandang yang dikelola orangtuanya.
    “Ayah saya adalah nasabah BRI sejak lama sekali. Mungkin sudah puluhan tahun,” ujar Debora.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari