Tanggal Hari Ini : 25 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
BRI yang Membuat Saya Semakin Yakin Berbisnis
Senin, 18 Maret 2013 08:39 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Begitulah perjalanan bisnis yang dilalui oleh Suyanto (42) yang mengawali usaha membuka Soto Semarang di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, lima tahun yang lalu.

Sebelum membuka usaha sendiri, Mas To demikian ia akrab dipanggil, sudah 12 tahun bekerja sebagai karyawan di Soto Bangkong khas Semarang yang berada di Bogor dan Jakarta. Soto Bangkong adalah  warung soto yang menyajikan masakan soto khas Semarang yang disajikan dalam mangkok kecil yang juga khas.

Salah satu kekhasan Soto Semarang ini adalah adanya kuah bening agak kecokelatan, ini dikarenakan diberi tambahan kecap, serta adanya  suiran daging ayam, irisan tomat, bihun, tauge, serta ada sedikit taburan bawang goreng di atasnya.

Penyajian soto dengan nasi bisanya  dicampur menjadi satu dalam mangkuk yang kecil, disertai dengan  lauk lain seperti sate daging ayam, sate kerang, sate telur puyuh, tempe, tahu, dan perkedel.

Setelah cukup lama bekerja sebagai keryawan serabutan di Soto Bangkong, suatu hari timbul keinginan mas To untuk membuka usaha Soto Semarang sendiri. Beruntung, sang Ibu, Daryati, yang juga pernah bekerja di Warung Soto Bangkong mendukungnya.

Dengan berbekal pengetahuan dari pekerjaan sebelumnya Mas To mencoba membuka usaha Soto Semarang di Pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat dengan modal awal sebesar Rp 8 juta. Modal sebesar itu digunakan untuk menyewa tempat usaha berukuran kecil, membeli alat-alat serta bahan dan perlengkapan lainnya.  

Pertimbangan pertama membuka usaha di Pasar Benhil adalah jumlah calon pelanggan yang cukup banyak di lokasi tersebut. Ia berharap dengan membuka usaha di lokasi keramaian seperti itu masalah pemasaran tidak menjadi kendala, karena biasanya untuk membuka usaha baru kendala pertama yang sering dihadapi adalah soal pemasaran dan sedikitnya jumlah pelanggan .

“Saya banyak belajar dari pengalaman di tempat saya bekerja dulu. Berawal dari sana saya mengembangkan usaha, mulai dari menetapkan produk, menetapkan harga jual  hingga cara memasarkannya. Saya membuka usaha di Pasar Benhil dengan harapan pada keramaian itulah akan lebih mudah mendapatkan pelanggan ,” ujar pria kelahiran Boyolali ini.

Suyanto, Pengusaha Soto Semarang di Pasar Benhil, Teras BRI Bendungan Hilir, Jakarta, BRI

Meskipun pada awalnya tidak seramai yang ia bayangkan, namun ia sadar bahwa pada awal-awal membuka usaha Soto Semarang ini memang sering sebuah usaha menghadapi kendala seperti itu. “Masalah utamanyanya biasanya seperti itu, sepi pelanggan pada awal-awal membuka usaha,” ujarnya.

Meskipun saat itu belum ramai pembeli ia tetap menjaga kualitas serta belajar melayani pelanggan dengan lebih baik lagi. Semua racikan bumbu ia lakukan sendiri bersama ibunya, termasuk memilih bahan-bahan baku yang digunakan. Semua dipilih yang terbaik dengan pelayanan yang terbaik pula.

Setelah beberapa waktu lamanya usahanyapun mulai berkembang. Pelanggan mulai banyak dan omzet mulai meningkat. Mas To sudah mulai kewalahan melakukan usaha sendiri, karena itu beberapa bulan kemudian ia mulai merekrut beberapa karyawan laki-laki untuk membantu menjalankan usaha.

Suyanto, Pengusaha Soto Semarang di Pasar Benhil, Teras BRI Bendungan Hilir, Jakarta, BRI

Selain itu ia juga mulai menempati lokasi berjualan di tempat usaha yang lebih luas agar pelanggan yang datang ke gerainya lebih nyaman. Ia kemudian menyewa sebuah ruko kecil berukuran 4 x 4 m dengan harga sewa sebesar Rp 12 juta per tahun.

Berawal dari itulah ia mulai mengenal BRI, karena saat itu ia mengajukan pinjaman sebesar Rp 4 juta  ke Unit Teras BRI yang berada di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. Setelah lunas pinjamannya ia menyambung lagi mengajukan pinjaman sebesar Rp 15 juta untuk menambah biaya sewa ruko dengan tempat yang lebih luas.

“Saat itu saya mengajukan pinjaman lagi sebesar Rp15 juta dan disetujui oleh BRI. Pada saat itulah saya merasa bahwa  BRI sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha yang saya jalankan,” ujar ayah satu anak ini.

Buka usaha mulai dari jam 7 pagi hingga jam 15.00 WIB, serta dengan harga soto sebesar Rp 8 ribu – Rp11 ribu per porsi Mas To dapat meraup omzet minimal Rp 1 juta – Rp1,5 juta dalam sehari. Omzet tersebut belum termasuk jika ada pesanan dalam jumlah banyak dari kantor-kantor di sekitar Benhil atau pesanan dari perusahaan katering yang menjadi mitranya. Untuk meningkatkan omzet lebih besar lagi Mas To sudah mencoba menambah menu tambahan antara lain menu bakmi godog, cap cay, serta bakmi goreng.

Kunci suksesnya mengelola usaha seperti ini menurut Mas To adalah selalu memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Karena berawal dari kepuasan pelanggan itulah ia memperoleh banyak pelanggan baru, termasuk pesanan-pesanan untuk berbagai pesta atau acara.

Kini Mas To terus mengembangkan usaha Soto Semarang yang telah dirintisnya dengan dibantu dengan 4 orang karyawan untuk mengelola 2 outlet usahanya yang berada di Jakarta. Dari dua outlet usaha itulah ia kini mampu memberikan kesejahteraan kepada keluarga dan para karyawannya.

Bagi mas To, apa yang telah dicapai selama ini selain kesabaran dan ketelatenan untuk menjaga usahanya agar tetap lestari juga berkat dukungan dari BRI yang berkenan memberikan kredit untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar lagi. Kini bahkan di gerainya tersedia alat penerima pembayaran mobile cash (Mo Cash BRI) sehingga pelanggan yang datang dapat melakukan pembayaran melalui mobile banking.   

 “Saya jujur ingin mengucapkan terima kasih kepada BRI karena usaha kami benar-benar sangat didukung oleh BRI,” cetus suami dari Ratmini ini.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari