Tanggal Hari Ini : 21 Oct 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Walikota Denpasar), Dengan Kreativitas, Kita Bangun Monumen Maya
Selasa, 26 Februari 2013 14:38 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Begitu dilantik sebagai Walikota Denpasar pada 11 Agustus 2010, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra langsung mengarahkan kota yang dipimpinnya menjadi kota kreatif berbasis kearifan budaya lokal.  Waktu itu, selain pertumbuhan ekonomi, orientasi pembangunan yang umum dilakukan oleh pemerintah-pemerintah daerah di seluruh Indonesia adalah pembangunan fisik.  Rai Mantra –demikian dia akrab disapa, tak mau turut larut dalam tren tersebut. Dia merancang dan menggerakkan pembangunan kotanya dengan kreativitas sebagai tekanan utamanya. Dalam dua tahun, upaya itu menjadikan Kota Denpasar maju hingga meraih berbagai penghargaan tingkat Nasional.  Bagi Rai Mantra, hal itu masih jauh dari tujuan. Sebab angan-angannya adalah menjadikan warga Denpasar mandiri dengan daya kreasi, inovasi, dan jiwa kewirausahaannya. Tiga hal yang kelak  menjadi modal untuk membangun apa yang ia istilahkan  dengan “monumen maya”. Seperti apa jabarannya? Berikut petikan wawancara dengannya di sela-sela Rapat Koordinasi di sebuah villa di Bedugul, Sabtu (2/2).

 

Kenapa Anda memilih konsep kota kreatif sebagai acuan gerakan pembangunan?

Pertama, karena Kota Denpasar adalah daerah yang miskin sumber daya alam. Dia hanya mempunyai SDM (Sumber Daya manusia, red).  Kedua, karena dari segi interaksi sosial maupun interaksi ekonomi,masyarakat Kota Denpasar lebih cepat mengalami akselerasi daripada daerah-daerah lain di Bali.   Berangkat dari situ saya berupaya mengarahkan strategi pembangunan, secara infrastruktur maupun suprastruktur, yang intinya adalah pembangunan sumber daya manusia. 

Dalam kondisi Denpasar saat ini, untuk mempercepat tingkat pertumbuhan pembangunan kita harus memiliki kreativitas yang tinggi. Seluruh SDM-nya harus kreatif  sehingga memiliki daya saing yang kuat. Cakupan kreativitas di sini bukan semata-mata  yang termaktub dalam konsep ekonomi kreatif saja.  Tidak. Melainkan menyeluruh.

 

Jadi bukan konsep ekonomi kreatif ansih?

Ekonomi kreatif termasuk di dalamnya.

 

Bagaimana jabarannya?

Begini, dalam membangun kota macam Denpasar, untuk mempercepat tingkat pertumbuhan kita harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Semua orang harus kreatif agar bisa kuat dalam iklim persaingan dunia yang semakin ketat ini.

Kalau bicara  ekonomi kreatif, di dalamnya  ada beberapa sektor ekonomi yang menjadi tumpuan utama, seperti  penerbitan, arsitektur, fotografi, fesyen, dan sebagainya. Tapi yang kita garap lebih luas dari itu. Ada pertanian, perikanan,  dan banyak lagi. Semuanya kita arahkan agar berkembang dengan basis kreativitas.

 

Untuk memahami konsep ini kita melakukan empowering, pemberdayaan.  Bagi masyarakat kelas atas, tentu tidak perlu. Mereka sudah bisa melakukan sendiri segala sesuatu secara kreatif. Sedangkan bagi masyarakat akar rumput yang bergerak di sektor usaha kecil menengah dan mikro,  perlu ada pembinaan yang tertata, terarah dan berkelanjutan.

 

Seperti apa pembinaannya?

Pembinaan di sini berupa suatu akses terhadap pengetahuan, ruang ekspresi, dan ruang presentasi. Dari situlah Jadi, kita arahkan mereka untuk melakukan eksploitasi pikiran untuk membangkitkan atau membuka minat dan bakat mereka. Lalu kita salurkan minat dan bakat mereka itu, kita arahkan agar tumbuh  ide-ide dan inisiatif-inisiatif untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan lebih baik dari sebelumnya. Itu yang paling penting.

 

Seperti apa contohnya?

Misalnya, di Denpasar ini kita menadapat informasi tentang komunitas perajin dan pedagang kain endek yang nyaris mati usahanya. Maka kami lakukan pemetaan masalah dan, singkat cerita, kemudian kami arahakan kreativitas mereka untuk merevitalisasi kain endek tersebut. Motifnya, desainnya, kemasannya, pemasarannya, dan lain sebagainya. Intinya, jangan sampai kain endek yang merupakan warisan tradisi ini mati akibat persaingan dan minimnya inovasi.

Sebagai implementasinya, Pemerintah kemudian memfasilitasi mereka untuk mengembangkan diri, menyediakan ruang pamer dan tempat peragaan,menyokong riset  yang dilakukan oleh seseorang di antara mereka, serta mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung. Hasilnya, mereka pun menggeliat bangkit dengan daya tarik mereka yang baru.  

 

Tentang kearifan lokal yang menjadi landasan kreativitas yang selalu Anda dengungkan, bagaimana penjelasannya?

Visi pembangunan kota kami adalah “Kota kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan”.  Ini artinya kreativitas akan bisa lebih dipahami apabila ada satu landasan filosofi atau kejiwaan yang berakar dari kultur yang mereka kenal. Bukan dari kultur baru. Kalau kultur baru, mungkin memerlukan waktu yang lama untuk melakukan transformasi. Dan, pasti sangat sulit.

Jadi, yang kita lakukan sekarang adalah transformasi yang sifatnya menyelaraskan hal-hal lama dengan kebutuhan dan kekinian.  Apa yang dibutuhkan pada saat ini? Apa selera pada saat ini?  Intinya, bagaimana kita secara kreatif mengeksploitasi nilai-nilai kearifan lokal dan mensinergikannya  dengan aktivitas atau sistem atau perangkat modern untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan diterima oleh orang banyak.

Contoh lain, dalam reformasi birokrasi. Dari pusat, kami sudah mendapat panduan tentang segala aturan dan tata cara hal ini. Tapi kami sendiri mencoba secara kreatif untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal. Kami tangkap semangat dari reformasi birokrasi itu sendiri lalu kami sesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh tetua kami. Maka ketemulah kami dengan adagium “sewaka dharma” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “melayani adalah kewajiban”.

 

Menurut ajaran tetua kami, melayani memang merupakan kewajiban. Melayani Tuhan adalah kewajiban. Melayani manusia adalah kewajiban. Melayani alam juga merupakan kewajiban.  Maka kami jadikanlah “Sewaka Dharma” sebagai moto pelayanan Pemerintah Kota Denpasar.  Dan, berangkat dari situ kami melakukan reformasi dalam birokrasi kami.

 

Bagaimana dengan orang-orang yang berprofesi macam tukang batu, tukang listrik, ahli mesin, dan semacamnya? Di mana posisinya dalam pembangunan kota kreatif ini?

Di dalam kreativitas itu terkandung skill development, peningkatan keahlian. Seseorang harus meningkat keahliannya dari waktu ke waktu. Tidak berhenti di satu titik dan menjadi monoton.  Mereka juga boleh terpaku untuk mengeluarkan out put yang sama macam mesin. Mereka harus menjadi otaknya di balik mesin itu. Misalnya pada pabrik batako. Kalau sejauh ini mesinnya  hanya bisa mencetak batako dari campuran semen-pasir  berbentuk persegi panjang,  bagaimana mereka terus bereksplorasi untuk  dapat membuat batako dengan bahan dan dalam bentuk yang lain. Bisa bulat, segi lima, segi  enam, dan seterusnya, dengan bahan lain sehingga lebih ringan dan lebih kuat, serta lebih murah dari sisi penjualan.

Jadi, begitu. Kreativitas merupakan suatu daya untuk menciptakan sesuatu yang beda dari yang lain sehingga memiliki daya saing, merebut perhatian,  bahkan menguasai pasar.

 

Apa tahapan dalam membangun kota kreatif ini?

Mula-mula kami menyusun konsep. Di situ kami jabarkan apa itu kreatif, kreativitas, dan bagaimana cara membangkitkannya. Setelah itu, kami memetakan potensi-potensi  kreatif yang ada. Selanjutnya,  kami mensosialisasikan konsep tersebut kepada masyarakat. Yang keempat, mengaplikasikan dan mengadaptasikan di masyarakat.

Tentu ini tidak mudah. Karena itu mula-mula kami berikan panduan kepada  semua SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah, red) agar mereka memahami terlebih dahulu semua konsep  sebelum membuat kegiatan. Inti panduan itu adalah bagaimana memahami kreativitas, bagaimana memetakan kreativitas,  bagaimana mengaplikasikan dan mengadaptasikannya.

 

Ada kendala dalam menggerakkan jajaran SKPD? 

Kalau masalah kendala pastilah ada. Dalam mengelola orang banyak, tidak mungkin sesuatu itu berjalan mulus seratus persen. Kadang-kadang, pemahaman dan produktivitas mereka dalam melaksanakan kegiatan tidak sejalan dengan yang digariskan.

 

Bagaimana Anda menyikapi itu?

Harus sabar. Mengubah perilaku itu tidak bisa grusa-grusu. Saya harus sabar dan tekun menghadapi tantangan ini. Saya sendiri harus kreatif mencari cara. Misalnya menyederhanakan bahasanya untuk menyampaikan konsep-konsep dasar tersebut. Dalam berbagai pertemuan saya ulang-ulang pemahaman itu dengan mengatakan bahwa inti dari kreativitas itu sederhana saja, Anda harus membuka ruang masyarakat untuk bakat mereka, minat mereka,  keahlian mereka. Pemerintah sendiri harus mengeksplorasi daya intelektualnya untuk menjabarkan dan membreak down-nya ke dalam satu rancangan aplikasi kegiatan.

Maka, seperti Anda saksikan, kini sudah mulai bertumbuh potensi-potensi kreatif di Kota Denpasar dalam berbagai bidang. Selain itu, juga mulai tumbuh langkah-langkah kreatif dalam banyak hal guna menghasilkan sesuatu yang berguna. Seperti dalam pertanian, meskipun  areal pertanian  sangat terbatas, namun  produksi beras di kota ini meningkat sebesar 5 persen setiap tahunnya. Tanpa kreativitas,  hal ini sulit dicapai di daerah perkotaan.

 

Bagaimanan link dengan dunia luar?

Kita butuh bantuan untuk mengevaluasi. Karena itu kita membangun link dengan dunia luar dalam arti di luar kota Denpasar.  Seperti dalam upaya kami menghidupkan kembali kawasan jalan Gajah Mada yang sudah lama “mati suri”,  kami meminta banyak pertimbangan dari luar. Dari situ kami  mendapat gagasan untuk  mengangkat kesejarahan kawasan tersebut yang memiliki kaitan erat dengan peristiwa Puputan Badung dan sebagai kawasan di mana pada beberapa abad yang lampau terjadi interaksi globalisasi antara orang Bali dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.  Maka kawasan tersebut pun kami jadikanlah sebagai heritage city.  

Selanjutnya, kami akan mengintensifkan hubungan kami dengan World Heritage City Organization yang kini  beranggotakan 24 kota di dunia. Saat ini, Denpasar telah menjadi anggotanya, namun belum sebagai anggota tetap.Kami juga merintis jaringan ke UNESCO  untuk itu.

Untuk masalah kreatif, kami akan mengintensifkan kembali  jaringan dengan British Council yang pernah member kita masukan tentang konsep Ekonomi Kreatif dan bagaimana membangun sebuah creative city, yakni dari sebuah kota yang tidak mempunyai value menjadi punya value.

Dalam tataran praktis, kami mendorong para pekerja kreatif untuk terus berkarya dan melakukan presentasi ke publik yang lebih luas. Dalam fotografi, misalnya.  Kami membangun Denpasar Photography Community.  Kepada para anggota klub itu saya selalu katakan bahwa seharusnya mereka sudah harus bergaul di tingkat nasional dan di tingkat internasional.

 membangun Denpasar Photography Community.

Apa fasilitas yang diberikan Pemkot untuk itu?

Denpasar tidak memiliki cukup banyak dana untuk menyokong kegiatan warganya yang sedemikian banyak ini. Itu yang membuat saya jengah. Untuk memfasilitasi kebutuhan warga, kami menempatkan semua hal  dalam segmen-segmen lalu kami pilah dan urutkan berdasarkan prioritas.  Selebihnya,  kami menyokong kegiatan masyarakat dengan mengembuskan slogan “small to great”. Bagaimana caranya kita yang kecil ini menjadi hebat. Selain tidak mampu, kami  tidak mau  memenuhi seluruh permintaan bantuan dari masyarakat. Apalagi dalam bentuk kucuran dana segar. Kami lebih memilih untuk membangkitkan semangat mereka untuk berkompetisi dan menghadapi tantangan mereka masing-masing. Ini kami lakukan untuk membangun kemandirian mereka.

 

Bagaimana dengan perlindungan atas HAKI?

Kita punya poliklinik HAKI yang dikelola oleh Biro Hukum kami. Setiap penyelenggaraan Denpasar Festival mereka membuka stand untuk melayani masyarakat yang memerlukannya. 

 

Anda getol melakukan Revitalisasi Pasar Tradisional. Apa kaitannya dengan konsep dasar anda?

Intinya semua adalah Denpasar kreatif berwawasan budaya. Pasar tradisional  adalah sebuah  warisan budaya. Nah,  secara kreatif kemudian kita kembangkan untuk meningkatkan kapabilitas dari masyarakat akar rumput yang banyak berusaha di sana.  Tujuannya, agar mereka mampu  bersaing dan berdampingan dengan pelaku pasar modern.

 

Ini kami lakukan sebelum pemerintah pusat menyelenggrakan program ini. Kami awali dengan merevitalisasi  Pasar Sindu di Sanur dan itu diresmikan oleh Ibu Mari Elka Pangestu (Menperindag saat itu, red). Lalu ketika Pemerintah Pusat mengadakan program revitalisasi pasar tradisional, Kami diberi kepercayaan untuk mengembangkan pasar-pasar tradisional  lainnya. Itu sebetulnya kalau kita lihat, ide besarnya adalah kreativitas.

 

Maksudnya?

Bagaimana kita secara kreatif membuat pasar tradisonal agar tidak ditinggalkan oleh konsumen. Anda tahu, dengan income per capita  yang meningkat konsumen pasti bergerak maju dan mengubah perilaku mereka. Nah, jangan sampai perubahan perilaku tersebut  membuat pasar tradisional di mana masyarakat akar rumput mencari nafkah, ditinggalkan dan dimarginalkan.  Maka, satu-satunya jalan adalah merevitalisasi pasar tradisional  dengan memperbaiki  bangunannya, memperbaharui lay out-nya, menata lingkungannya agar selalu  bersih dan sehat,  serta membina pedagangnya agar memiliki jiwa kewirausahaan dan wawasan manajerial yang bagus.

 

Itu saja?

Tidak. Setiap tahun kami  menyelenggarakan festival pasar tradisional yang melombakan pasar-pasar tradisonal dan memilih pedagang teladan.  Itu seiring dengan lomba wirausaha muda yang juga kami selenggarakan setiap tahun. Para pemenang lomba-lomba itu  kami kirim ke Rumah Perubahan yang dibangun oleh Reinald Kasali untuk mendapatkan pendidikan khusus di bidang kewirausahaan.

Dengan cara itu, beberapa pasar tradisional kini telah sejajar dengan pasar-pasar modern. Bangunan fisiknya mungkin berubah menyamai pasar modern, tapi nilai budayanya tetap tak berubah. Interaksi sosialnya masih tinggi di situ.  Tawar menawar dan tegur sapa masih terdengar di sana…

Lebih luas lagi, dengan cara itu kami berupaya untuk mengadakan perubahan mentalitas guna menumbuhkan bakat-bakat entrepreneur yang handal.  Jika jiwa-jiwa entrepreneur terbangun kuat di berbagai bidang, maka kota ini akan memiliki sebuah monumen yang kokoh melebihi monumen mana pun.  Nama monumen itu adalah Monumen Maya.

 

Monumen Maya? Apa itu?

Monumen Maya adalah monumen yang bukan dibangun dengan pasir, besi, baru, dan beton, tetapi dengan kreativitas, kesejahteraan tubuh dan pikiran, pengetahuan, kemandirian, kebijaksanaan dan kecerdasan warganya. 

Kembali ke soal pedagang, jadi  dari para pedagang teladan yang dibina lagi itu kami berharap akan menular semangat wirausaha dan pengetahuan manajerial kepada pedagang yang lain. Memang ini memerlukan waktu yang panjang untuk melihat perubahannya.  Tapi inilah  sustainable development concept, konsep pembangunan berkelanjutan, yang kami jalankan.

 

Apa ukuran keberhasilannya?

Kalau pada pasar tradional, ukuran keberhasilannya adanya perubahan perilaku untuk selalu menjaga bangunan fisik yang kami perbaharui agar tetap baik dan bersih.  Dari segi income per capita, apa yang mereka peroleh, meningkat.

 

Untuk yang lain, berbeda lagi ukurannya. Tapi, bagi saya, intinya sama:  sejauh mana masyarakat merasa bahagia lahir-batin. Dan, itu hanya dapat diukur oleh masyarakat sendiri.

 

Sejauh ini sudah berapa persen keberhasilannya? 

Saya sulit menjawab pertanyaan ini sebab teralu subyektif buat saya dan saya tidak terlalu percaya diri untuk mengatakan apakah langkah kami sudah berhasil atau belum.  Sebaiknya tanyakan saja  langsung pada masyarakat.  

Satu hal yang ingin saya katakan, dan ini kerap saya sampaikan kepada masyarakat bahwa  no body wants to help you. Only your self.  Tidak ada seorang pun yang dapat menolong Anda. Hanya diri Anda sendiri.  Satu hal yang dapat menolong diri anda adalah kreativitas, seberat apa pun tantangan yang anda hadapi.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari