Tanggal Hari Ini : 25 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Semua (Bisa) Menjadi Besar Karena Tempaan Bertubi-Tubi
Selasa, 26 Februari 2013 13:12 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Kisah membangun bisnis, tidak seperti membalik telapak tangan. Ada sebuah proses panjang yang dilalui agar bisnis dapat tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan. Ketekunan dan kemauan yang keras adalah syarat untuk maju. Bisnis dapat dirancang menjadi lebih besar jika mau belajar dari kesalahan, belajar dari kesuksesan dan kegagalan orang lain serta terus menimba ilmu untuk kemajuan bisnis di masa mendatang.

Bank BTPN mempertemukan para nasabahnya, yang sebagian besar adalah pengusaha UKM dalam forum bincang-bincang bisnis yang sederhana dan penuh keakraban. Hasilnya adalah sebuah network dan saling belajar yang sangat membahagiakan bagi mereka semua.

Hj. Idhar Hayanti misalnya, yang menceritakan bagaimana ia membangun puluhan bisnis yang dirikannya dapat lestari hingga kini. Menurut Hj Idhar kuncinya adalah ketegasan dan kemampuan memimpin.

“Jika berbisnis harus mau dan banyak belajar, terutama belajar memahami bisnis kita,  mau dibawa kemana bisnis kita ini, serta kemajuan apa yang harus dapat kita lakukan. Tanpa itu, bisnis hanya akan stagnan dan tidak mengalami perkembangan yang berarti,” cetusnya.

Kemampuan memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk menjalankan bisnis, adalah hal penting, lanjut Hj Idhar, karena jika semua harus dijalankan sendiri sampai apa kuatnya semua dapat dilakukan sendiri, pasti tidak akan mampu. Cara memilih orang yang dapat dipercayapun sebenarnya mudah. Buat aturan yang jelas dan jalankan kepemimpinan dengan efektif, yang menyimpang segera disingkirkan, jangan sampai menulari karyawan-karyawan yang masih baik dan loyal.

“Kalau ada karyawan yang nakal, sekali diperingatkan, tetapi kalau sudah sampai dua hingga tiga kali masih nakal segera keluarkan. Jangan takut tidak menemukan karyawan yang baik. Semua akan ketemu, dan akan ada waktunya untuk ketemu,” cetusnya.

Soal ketegasan ini, menurut Hj Idhar,  jangan spekulasi lagi untuk memutuskannya agar ditemukan orang-orang yang dapat dipercaya dalam menjalankan bisnis kita. Namun demikian Hj Idhar juga berpesan bahwa kita harus ingat bahwa usaha yang kita dirikan juga tidak dapat berjalan dengan baik jika tidak ada karyawan, karena itu tata krama, sopan santun harus tetap diperhatikan. “Jangan mentang-mentang, dan kita harus tetap memiliki wibawa. Perhatian kita juga harus kita curahkan agar mereka (para karyawan) dapat mencurahkan pikirannya kepada usaha kita,” ujarnya.

Semua bisnis, apapun bentuk bisnisnya memiliki pola yang hampir sama. Karena itu setelah memiliki pola dan manajemen yang tepat pasti pola serupa dapat digunakan untuk mengelola bisnis lainnya.

Dalam hal pengelolaan usaha, Hj Idhar memiliki perumpamaan yang sederhana. Berbisnis harus dimulai dari hal-hal kecil, setelah terbiasa dan paham benar bisnis dapat dikembangkan dan dibesarkan dengan mudah. Mengelola uang juga demikian, jangan sampai bayang-bayang lebih tinggi dari badan. Jika ada keuntungan Rp1500 jangan sampai digunakan semua. Gunakan saja yang Rp1000, sedangkan yang Rp500 untuk investasi. “Semua orang pebisnis besar cara kerjanya seperti itu,” cetusnya.

Lain lagi dengan Daeng H Mapuji, yang selama puluhan tahun menggeluti bisnis material. Ia harus mengenal dan tahu seluk beluk kayu jika tidak ingin dikelabuhi oleh suplyernya. Pengalamannya sebagai penebang kayu di sebuah perusahaan HPH di Sumatra Selatan memberikan banyak pengalaman.

“Banyak orang yang menawarkan kayu kepada saya ngakunya kayu jenis Borneo, padahal itu hanya kayu albasia lokal yang dicelup sehingga warnanya kemerah-merahan. Tetapi setelah diserut warna putihnya akan nampak,” cetusnya.

Bayu Wibisana, Asri Deawinata, kayu albasia celupan dengan kayu kamper asli Borneo

Harga antara kayu albasia celupan dengan kayu kamper asli Borneo sangat jauh bedanya. Bayangkan jika ia tak memahami dengan baik pasti akan tertipu. Pengalaman dan skill itulah yang menjadikan Daeng kini memiliki outlet 4 buah di Kawasan Bandung, yang dikelola oleh keponakan atau adik-adiknya dengan syarat mereka harus sudah menikah. Mengapa harus menikah, karena Daeng memisahkan penjualan dilakukan oleh adik-adik atau keponakannya yang laki-laki tetapi keuangan harus dipegang oleh istrinya.

Bayu Wibisana, nasabah lainnya, yang berbisnis fotografi berbagi kiat cara meningkatkan omzet. Cara lama seperti beriklan atau membuat brosur dirasakannya sudah sangat ketinggalan. Ia memilih membangun komunitas para penggemar dan pelanggan fotografi. Dengan cara inilah omzetnya meningkat lebih tinggi dari biasanya. Ia percaya pelanggan kini semakin tidak percaya dengan apa yang tertulis dalam iklan-iklan tetapi lebih percaya dari apa yang diomongkan temannya.

Karena itu di gerainya, kini rutin dilakukan pameran hasil jepretan foto anggota komunitasnya, sesekali dilakukan pertemuan untuk membahas bagaimana menghasilkan foto terbaik. Di luar dugaan momentum itu merupakan momen berkumpulnya para fotografer yang menjadi pelanggannya.

Asri Deawinata, pengusaha restoran dan tour travel yang hadir juga berbagi kisah. Ia merasa berbisnis restoran gampang-gampang susah. Bisnis restoran itu sangat sensitive, kuncinya ada di kontrol kualitas. “Saya masih harus pegang sendiri untuk  komplain pelanggan mulai dari masakan yang kemanisan, keasinan, dll. Kontrolnya harus benar,” cetusnya.

Seperti yang disampaikan semua pengusaha yang sharing dalam acara ini, mereka sepakat bahwa tidak ada bisnis besar tanpa ujian berkali-kali, tidak ada cerita bisnis besar jika tidak ada tempaan berlipat-lipat, karena semua bisnis besar lahir dari tempaan yang datang bertubi-tubi.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari