Tanggal Hari Ini : 25 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Lusi Efriani Program International Visitor Leadership Program (IVLP)
Senin, 06 Agustus 2012 14:10 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Di Hotel Indigo, saya tinggal di kamar 1313. Bukan saya percaya akan tahayul tapi memang di kota ini saya sulit sekali tidur karena saya memang takut akan adanya gempa, seperti yang terjadi di Virginia sebelumnya.

Chicago ini sepertinya kota yang tidak pernah tidur, tak pernah terpejam matanya.  Hampir tiap jam saya mendengar bunyi sirene mobil polisi yang bunyinya cukup berisik. Dalam hati saya, apakah kota ini tingkat kejahatannya benar-benar cukup tinggi sampai seringkali bunyi sirene mobil polisi terdengar berkali-kali, bahkan berbeda sekali dengan Washington, DC dan Kalamazoo yang begitu tenang.

Namun dibalik itu semua, Chicago memiliki tatakota dan disain kota yang mengagumkan. Jumlah penduduknya termasuk sangat padat, dan modis-modis. Sebagai Kota metropolis Chicago sangat terasa betul atmosfirnya.

Di kota Chicago, saya dan Pak Ishaq mempelajari bagaimana peranan entrepreneurship dalam kontribusinya untuk peningkatan ekonomi dalam suatu negara. Juga peranan penting Corporate Social Responsibility (CSR) dan lembaga keuangan dalam membantu pengusaha kecil. Namun mereka juga menyadari betapa pentingnya peranan pemerintah dalam mendukung sektor-sektor usaha kecil (UKM).

            Di kota ini saya diajak berkunjung ke obyek wisata yang ada di kota tersebut, seperti ke “Willis Tower” yaitu gedung tertinggi di Amerika. Mereka, para pendamping program yang disiapkan oleh Pemerintah Amerika telah menyiapkan tiket sehingga kami tidak perlu antri. Pengunjung “Wilis Tower” ini sangat ramai saat itu karena memang sedang liburan musim panas, dan wisatawan datang dari seluruh penjuru dunia.

            Di kota Chicago ini saya banyak sekali melihat dan berkenalan dengan orang-orang kulit hitam, orang Afro Amerika. Ada satu yang sangat saya kagumi dari mereka, meraka sangat berani dan sangat percaya diri.

            Setelah lelah menghabiskan waktu, dan bertemu dengan banyak orang di sini, kartu nama saya sudah tak tersisa. Saya memutuskan untuk mencetak kartu nama lagi di Chicago, kebetulan hotel kami sangat dekat dengan business center yang mempunyai pelayanan yang lengkap.

Di kota ini benar-benar tenaga manusia dihargai cukup mahal. Untuk mencetak kartu nama maka biaya yang harus dikeluarkan dihitung berdasarkan jenis pekerjaan yang diperlukan. Misalnya, jika mencetak akan dihitung berdasarkan biaya cetak dan biaya potong, namun jika kita ingin memotong sendiri semua alat potong sudah disiapkan,  jadi kita bisa mengerjakan sendiri dan tidak perlu membayar ongkos potong. Untuk menghemat, saya memilih untuk memotong kartu nama saya sendiri. Kebetulan saya dulu punya usaha percetakan jadi urusan potong memotong bukan masalah buat saya.

Petugas di business center ini sempat heran pada saat melihat saya memakai alat potong yang cukup besar dan saya menggunakan alat ini terlihat seperti sudah biasa. Beberapa orang yang kesulitan menggunakan alat potong ini pun saya juga berusaha menolong mereka. Jadinya saya memang menjadi pusat perhatian orang-orang di business center ini. Tubuh saya yang mungil, pakai baju batik dan membantu orang-orang menggunakan alat potong membuat banyak orang kagum melihat saya. Saya kemudian bilang kepada mereka:”Jangan kuatir, di Indonesia saya pernah punya usaha seperti ini jadi saya sudah terbiasa menggunakan alat potong ini”. Mereka lalu tersenyum kepada saya.

 

Bagian 15

CSR Boeing

Saat kembali ke hotel, saya menemui resepsionis yang bernama Liza. Liza inilah teman saya selama di hotel. Saya sering bercakap-cakap dengan dia karena saya tidak berani keluar di kota Chicago ini. Begitu selesai pertemuan, saya hanya diam di hotel dan menikmati suasana di sekitar hotel saja. Fitness menjadi olahraga favorite dan fitness center menjadi tempat favorite saya juga. Sakit punggung saya rasa sakitnya sudah tidak bisa tertahankan lagi lalu saya sempat bertanya pada Liza berapa tarif tukang pijat jika dipanggil di hotel. Liza menjawab bahwa ongkos tukang pijat jika dipanggil ke hotel tarifnya sekitar US $130. Dalam hati saya,busyet mahal amat ya ongkos pijat di sini. Kebetulan saya sempat membeli kamera  SONY di Portland, Maine. Untuk Kamera SONY cybershot 14,1 megapixel saya harus merogoh kocek US$ 130. Bisa anda bayangkan biaya pijat satu jam di Chicago setara dengan  harga kamera SONY cybershot. Luar biasa mahalnya tenaga manusia.

Di Chicago saya berkesempatan berkunjung di Kantor Pusat Boeing. Disini saya mempelajari bagaimana perusahaan besar sekelas Boeing menyalurkan dana CSR nya. Sebelum kami melakukan diskusi, saya ditemani Direktur CSR Boeing Company untuk berkeliling melihat project- project Boeing, sungguh fantastis. Saya diajak melihat proyek-proyek luar angkasa yang biasanya hanya saya dengar dan lihat di film.  Namun sayang sekali lagi saya tidak boleh mengambil foto-foto. 

Dalam kesempatan ini saya bertemu dengan Direktur CSRnya, bernama Tracei Hall. Dia menjelaskan bahwa Boeing menyalurkan dana CSR nya dengan cara mendirikan pabrik di negara miskin. Dia memberikan contoh, salah satu program CSR nya yaitu Boeing mendirikan pabrik di India. Alasannya mengapa Boeing memilih India untuk program CSR nya, karena di India masih banyak orang miskin namun juga banyak orang-orang pintar di sana dan yang terpenting masyarakatnya bisa berbahasa Inggris.

Boeing bekerjasama dengan TATA Group,  perusahaan yang cukup besar di India untuk membangun pabrik Boeing disana. Jadi mereka bisa membantu masyarakat India namun juga tetap bisa mendapatkan keuntungan bagi perusahaan Boeing. Amerika sangat menyadari kepintaran orang-orang India, dan saya bertemu banyak orang-orang India di Amerika.

Di Kantor ini saya juga melihat bagaimana mahalnya sebuah waktu. Karena begitu berartinya waktu hampir semua CEO Boeing mempunyai koki sendiri yang bertugas menyiapkan makanan khusus untuk CEO. Mereka juga memiliki lift sendiri.  Karena waktu mereka bener-benar sangat berharga dan mereka terkadang tidak sempat keluar kantor hanya untuk sekedar makan atau antri untuk turun ke bawah.

Ada kejadian lucu di pada saat saya berkunjung di kantor Boeing. Memang sejak awal kami sudah diperingatkan untuk tidak mengambil foto di kawasan pabrik Boeing, tetapi saya memang bandel, saya mencoba sembunyi sembunyi mengambil foto dan tetap saja saya ketahuan oleh satpamnya. Sampai satpamnya bilang kepada saya, “nona sekali lagi anda mengambil foto, saya sita kamera anda”. Tapi saya tidak putus asa, saya coba melobi Tracei, saya bilang kepadaTracei,” saya bener bener kepengen foto project-project Boeing sama Naza”, Tracei menjawab “kalo saya sih sebenernya gak masalah kamu ambil foto tapi coba lihat dimana mana ada closed circuit television (CCTV),  nanti kamera kamu disita”. Mungkin karena memang saya pantang menyerah mau ambil foto, sampai-sampai ada satpam yang mengikuti kemanapun saya pergi,  soalnya dia tahu tamu yang satu ini super bandel.

 

****

Saya banyak belajar dari Tracei Hall. Saya sangat kagum dengan Tracei Hal, dengan usianya yang cukup muda, dia bisa menduduki jabatan yang cukup tinggi. Dia juga satu-satunya wanita kulit hitam yang bisa duduk di jajaran TOP Managemen Boeing. Saya sempat menanyakan apakah tidak ada diskriminasi di Perusahaan Boeing mengingat dia berkulit hitam. Tracei kemudian menjelaskan bahwa beruntung sekali dia bekerja di Perusahaan sekelas Boeing  dimana perusahaan ini pekerjanya berasal dari seluruh dunia maka mereka sudah terbiasa dengan perbedaan.

Tracei juga menasehati saya bahwa jika kita pintar dan percaya diri maka tidak akan orang lain yang bisa mendiskriminasikan kita. Saya juga sempat menanyakan bagaimana persaingan dalam dunia kerjanya. Tracei tidak melihat orang lain sebagai pesaing atau musuh. Tracei berkata bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Hal tersulit menurut Tracei adalah mengalahkan diri sendiri dari rasa malas.

Lalu saya kembali bertanya,  apakah dia tidak minder atau merasa tersaingi dengan wanita-wanita yang kerja di perusahaannya dan mereka hanya mengandalkan kecantikan. Tracei dengan tegas menjawab bahwa dia merasa cantik, dia menambahkan bahwa setiap wanita itu pasti punya kecantikannya sendiri-sendiri. Berbanggalah dengan dirimu sendiri. Percaya dirilah dengan apa yang kamu punya. Satu pesan saya bahwa kamu tidak perlu takut akan kerut dibawah matamu yang timbul karena kamu banyak membaca buku. Karena kerutan dimatamu itulah bukti nyata bahwa otakmu tidak kosong, kamu rajin membaca dan itu bisa membuat kamu menjadi wanita yang cerdas. Cantik itu tidak hanya identik dengan keelokan wajah tetapi dengan isi kepala dan kepribadian yang bagus itu akan membuat semua wanita menjadi cantik.

Ingat ya, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Percaya diri dan rajinlah belajar itu kunci sukses untuk berhasil. Salut sekali dengan nasehat Tracey Hall.

Perjalanan berikutnya ke Kantor Gubernur Illinois.Saat diajak berkunjung ke Kantor Gubernur Illinois ada rasa bangga yang kuat dalam diri saya. Disini kami berdiskusi dengan Samreen Khan (Senior Policy Advisor and Governor”s Liaison to Asians and Muslims) juga dengan Iwona W. Bochenska (International Trade Specialist).  Saya sempat berdiskusi dengan anak muda keturunan Pakistan(Samreen Khan) dan umurnya jauh dibawah saya, kira-kira 26 tahun. Selama berdiskusi saya kira dia adalah sekretaris Gubernur ternyata gadis ini adalah seorang penasehat Gubernur.

Selama berkunjung di 3 kota saya merasakan betul bahwa banyak sekali anak muda yang menduduki jabatan-jabatan penting. Generasi muda di Amerika betul-betul di beri kesempatan untuk berkarya baik di Pemerintah maupun di sektor swasta. Beda sekali dengan Indonesia. Disini saya berkesempatan memperkenalkan Kawasan Industri di Batam yaitu Batamindo dan KEIE. Kebetulan saya baru tahu bahwa banyak sekali produk-produk Amerika yang di produksi di Batam,  namun pemerintah AS tahunya produk-produk mereka dibuat di Singapore.  Saat saya menceritakan hal ini mereka begitu tertarik mengenal kota Batam karena letaknya yang sangat dekat dengan Singapore dan Malaysia.

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Accion Chicago, sebuah lembaga keuangan yang membantu usaha kecil dan menengah (UKM) baik dalam pembiyaan maupun training-training. Pertemuan ini sebetulnya tidak ada dalam jadwal namun berkat bantuan Ean Johnson (U.S Economic Development Administration) kami dapat berdiskusi dengan Jonathan Brereton,  Chief Executive Accion Chicago. Kantor yang sederhana namun rapi dan banyak sekali staf yang bekerja di kantor ini, padahal lembaga bantuan UKM ini sifatnya lebih sebagai lembaga swadaya masyarakat/ LSM. Banyak sekali para sukarelawan yang membantu lembaga keuangan ini.

Saat hari terakhir di Chicago, memberanikan diri berjalan-jalan di sekitar hotel. Cukup senang berjalan kaki dan menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota ini. Di kota ini orang-orang Afro Amerika cukup banyak yang sukses. Mobil-mobil mewah, banyak berseliweran.  Limousine bukanlah sebagai mobil mewah di kota ini. Di Chicago ini juga saya bertemu dengan  delegasi exchange dari Thailand,  yang bersama-sama dalam kelas Politik Amerika di Washington, DC.

 

****

Di kota Chicago ini saya banyak mendapatkan pelajaran tentang dunia usaha di Amerika khususnya sektor UKM. Pemerintah Amerika juga menyadari bahwa UKM lah yang paling tahan terhadap krisis ekonomi, dan banyak sekali lembaga-lembaga sosial yang peduli terhadap sektor UKM.  Di sini saya sempat membandingkan rate bunga bank untuk sektor UKM di beberapa negara. Dari pengalaman saya selama ini yang pernah berkunjung untuk melakukan study banding ke China, Malaysia, Singapora dan Amerika, saya sangat terkejut dengan rate bunga bank untuk pinjaman bagi para UKM. Ternyata rate bunga bank  untuk UKM yang tertinggi adalah di negara Indonesia. Di China rate bunga bank untuk UKM hanya berkisar 2-3 persen per tahun, di Malaysia bunga bank untuk UKM berkisar 3-4% per tahun, di Singapore berkisar hanya 2-3% per tahun, di Amerika 4-6%, sedangkan di Indonesia rate bunga bank  untuk sektor UKM mencapai 16-22% per tahun.

Sungguh ironis, pantas saja UKM di Indonesia sangat sulit bersaing dengan produk negara lain. Jangankan untuk bersaing, untuk mempertahankan usaha saja cukup sulit dengan kondisi ekonomi sekarang ini. Berharap sekali pemerintah Indonesia mengkaji ulang tentang rate bunga bank untuk para UKM ini.

Satu hal lagi, ada perbedaan perlakuan perbankan  dan pemerintah terhadap pengusaha yang usahanya pernah pailit. Kalau di Indonesia sangat susah bagi para pengusaha UKM yang pernah bangkrut untuk memperoleh bantuan lagi dari pihak bank atau pemerintah. Bahkan bisa jadi malah di blacklist, beda sekali dengan di Amerika yang selalu memberikan “second chance(negara memberikan kesempatan kedua) bagi para pengusaha yang gagal untuk berusaha kembali atas bimbingan dan dukungan negara.

Di Amerika jika ada pengusaha yang gagal maka lebih diperhatikan oleh pihak pemerintah dan perbankan. Mereka akan membantu menganalisa apa penyebab kegagalan usaha dari seorang debitur dan mereka berusaha untuk mencarikan solusinya dan pihak perbankan tidak akan segan –segan untuk mengucurkan kembali dana agar pengusaha ini dapat bangkit kembali.

Di kota ini pula saya jadi teringat dengan istilah “Chindia”,  istilah yang pernah saya dengar 2 tahun yang lalu pada saat bertemu dengan seorang buyer dari Kuala Lumpur dan pada saat itu kami  bertemu di Singapore. Saat itu buyer saya tidak percaya kalau saya orang Indonesia,  dia bilang bahwa saya mempunyai paras “Chindia” yaitu jika seorang China  menikah dengan seorang India maka keturunannya akan seperti diri saya.

Saya hampir lupa dengan istilah itu, dan di Amerika saya mendapatkan julukan yang sama. Orang Chindia.  Kebetulan pada saat di Amerika saya sering menggunakan baju batik dengan disain baju “Cheongsam” dan memang banyak sekali yang bilang bahwa paras wajah saya seperti India.

Di Amerika keturunan “Chindia” ini sangat menarik perhatian karena mereka berpikir bahwa keturunan “Chindia” ini yang akan diramalkan mampu mengusai perekonomian dunia. India sangat terkenal dengan kepintaran nya dalam bidang IT dan China sangat bagus dalam bidang perdagangan. Maka jika 2 negara ini bersatu maka keturunannya akan mempunyai otak yang sangat luar biasa cerdas dan mempunyai intuisi bisnis yang bagus. Namun sayang saya bukan “Chindia” tetapi saya orang Indonesia. Orang-orang Indonesia juga pintar-pintar dan kreatif.  

 

 

Bagian 16

Portland, Maine

           

Perjalanan dari Chicago ke Portland Maine memakan waktu 2 jam. Kami menggunakan pesawat United Airlines. Namun pengalaman berada di bandar udara AS sangat merepotkan. Kalau di Indonesia saya selalu senang jika di bandara karena saya akan bertemu dengan orang-orang baru dan saya memang hobi traveling, namun di Amerika, bandara menjadi tempat yang paling menyusahkan. Pemeriksaan yang cukup ketat dan benar-benar membuat saya repot karena harus membagi-bagi barang agar berat bagasi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Di bandara Chicago ini saya benar-benar di buat repot. Sempat panik karena ada satu tas yang overweight dan saya harus memindahkan sebagian barang ke tas yang lainnya. Benar-benar saya agak paranoid jika berada di bandara AS.

Saat ke Portland,Maine, saya bertolak  dari Bandara International O’Hare, Chicago Illinois. Saya, Pak Ishaq dan Pak Hengky kembali mendapat duduk terpisah. Kebetulan saya memperoleh tempat duduk bersebelahan dengan gadis cantik yang cukup muda dan modis. Untuk membunuh rasa bosan saya mengajak ngobrol sebelah saya. Namanya si Jullie berasal dari Texas, dia pergi ke Portland Maine karena ingin menghabiskan masa liburannya dengan pacarnya. Si Jullie menceritakan pekerjaannya, dia bekerja di “Soup Kitchen” yaitu sebuah lembaga sosial yang memberikan makanan kepada gelandangan di Texas. Saya senang sekali mendengar cerita Jullie. Bahwa pekerjaannya adalah mengumpulkan bahan-bahan sumbangan dari minimarket atau supermarket di kotanya lalu lembaga ini akan membuat makanan dari bahan-bahan sumbangan tadi kemudian disajikan untuk para gelandangan di kotanya. Ada jam-jam tertentu untuk para gelandangan agar bisa mendapatkan makanan dari “Soup Kitchen”.

Lalu giliran si Jullie bertanya tentang kegiatan saya di Indonesia. Saya bercerita bahwa saya adalah pekerja sosial, yaitu Pembina UKM, atas pekerjaan ini saya banyak turun ke lapangan untuk mengunjungi usaha-usaha kecil. Jika ada pengusaha kecil ada yang layak  untuk dibantu permodalannya maka saya akan memberikan rekomendasi ke bank agar pengusaha kecil ini bisa mendapatkan bantuan permodalan. Bahkan saya juga mengajak beberapa pengusaha untuk pameran di luar negeri seperti ke Malaysia maupun ke Singapore.

Keakraban kami ini membuat pramugari pesawat United Airline juga ikut nimbrung bercakap-cakap dengan kami. Lalu mereka berdua bertanya bagaimana bisa saya bisa terpilih dalam program IVLP ini karena mereka sendiri yang warga Amerika tidak pernah mengetahui program ini. Lalu saya menjawab bahwa saya terpilih karena saya aktif dalam kegiatan sosial dan memang saya senang sekali berkegiatan sosial. Mungkin inilah hadiah dari Tuhan yang diberikan melalui Pemerintah Amerika atas kegiatan sosial yang sering saya lakukan.

Di pesawat ini kita bertiga memang heboh sekali. Apalagi pramugari UA tidak percaya bahwa saya sudah berusia 31 tahun dan mempunyai 2 orang anak. Ia mengira saya bohong karena badan saya yang masih seperti anak-anak untuk ukuran orang Amerika.

 

****

 

Saya tidak terlalu mengalami “Culture Shock” karena saya sudah sering bepergian ke luar negeri. Tetapi tidak tahu kenapa malam itu saya merasa gelisah ada perasaan kangen dengan Indonesia. Ternyata saya mengalami “Homesick” di kota ke empat ini. Saya memang punya kebiasaan di Batam makan pisang goreng di sore hari. Di Portland, saya benar-benar ingin makan pisang goreng namun saya takut merepotkan Pak Hengky jadi saya mencoba memendam sendiri keinginan saya.

Malam pertama di Portland, Pak Hengky mengajak kami makan di restauran Thailand. Alhamdulilah di Restauran ini saya  akhirnya bisa menemukan pisang goreng. Walaupun pisangnya bukan seperti pisang goreng di Indonesia tapi lumayan sudah bisa mengobati rasa kangen makan pisang goreng. Pisang goreng disini pisangnya dililit dengan kulit lumpia lalu di goreng kemudian atasnya diberi keju dan coklat. 1 menu tersaji 4 pisang goreng karena Pak Hengky dan Pak Ishaq tidak mau makan pisang goreng itu akhirnya saya habiskan semua pisang goreng itu sendiri. Saya benar-benar seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak makan pisang goreng.

Sakit punggung membuat saya cepat merasa lelah. Selesai makan malam, saya langsung kembali ke kamar dan selalu melakukan ritual berendam agar sakit punggung saya bisa sedikit berkurang. Setelah berendam saya melanjutkan nonton TV. Ada acara televisi yang cukup unik. Sebuah acara yang menayangkan sebuah usaha yang cukup unik yang dijalankan oleh wanita yang cukup cantik. Saya sangat tertarik melihat acara ini. Wanita ini menjalankan usahanya sebagai instruktur untuk edukasi sex bagi para wanita. Dia membuka kursus privat yang setiap sesinya diikuti 6 sampai 8 orang wanita. Biaya kursusnya sekitar US $200 per orang. Disini mereka akan mendapatkan pelajaran bagaimana cara memperlakukan laki-laki atau suami agar mereka puas dengan pelayanan yang diberikan.

Saya melihat acara ini antara ingin tahu juga agak sedikit malu. Namun karena saya melihat sendirian jadi saya putuskan untuk terus melihat acara ini. Sungguh peluang usaha yang cukup unik. Memang di Negara Indonesia hal-hal yang berbau sex memang di anggap tabu padahal hal ini sebetulnya perlu diajarkan ke generasi muda agar mereka tidak mencari tahu sendiri. Lebih baik mereka diberi pendidikan sex jika usia mereka memang sudah cukup dewasa. Agar mereka bisa mengetahui apa akibat dari melakukan hubungan sex.

Di akhir sesi kursus setiap peserta diminta pendapat tentang kursus yang cukup unik ini. Mereka menyatakan cukup senang dengan mengikuti kursus ini karena banyak informasi yang mereka dapatkan serta mereka tidak perlu malu atau bingung menanyakan bagaimana cara terbaik memperlakukan suami-suami mereka agar mereka tidak dihinggapi rasa jenuh.

Karena di Amerika masih banyak yang menganut paham bahwa pernikahan sekali seumur hidup. Sungguh salut dengan ide dari wanita cantik ini. Pengusaha wanita ini sekarang mempunyai jadwal yang cukup padat karena ide dia untuk memberikan kursus singkat tentang pendidikan sex.

 

****

Selama di Portland, Maine semua kegiatan kami diatur oleh World Affairs Council of Maine, dengan Penanggung jawab Maureen Hurley. Selama di Portland, Maine kami tinggal di Hotel The Holiday Inn by the Bay. Di kota ini kami belajar eco-tourism dan Fishing Industry. Jadwal juga semakin padat. Namun Portland, Maine memang kota yang sangat indah. Salah satu kota tempat tujuan wisata dan terkenal dengan “Lobster”. Harga Lobster disini sangat murah.

Pertemuan pertama di sini adalah dengan The Main Office of Tourism, kami bertemu dengan Carolann Ouellette (Director of Maine Office of Tourism) dan Judy Bielecki (Department of Economic and Community development). Kami banyak berdiskusi tentang kebijakan-kebijakan pariwisata dan berbagai strategi pemerintahan Portland, Maine dalam mempromosikan sektor pariwisata. Diskusi kami berlangsung sangat seru dan cukup lama. Sehingga jadwal kami sempat molor.

Acara dilanjutkan dengan tour berkeliling The Maine State House. Bangunan yang dibuat pada tahun 1832. Maureen juga mengajak kami memasuki Gedung The House of Representative dan Senate Chambers. Ada yang unik dari gedung wakil rakyat ini selain dilengkapi ruang sidang seperti gedung yang lain tetapi disini dilengkapi museum kecil dimana ditampilkan hewan khas yang ada di Maine.

Di Portland Maine, saya berkunjung ke berbagai sentra bisnis di sektor pertanian dan perikanan disana. Saya sangat heran bahwa dikota ini banyak sekali anak muda yang bangga menjadi petani dan nelayan, rata-rata mereka mempunyai penghasilan yang cukup baik berbeda sekali dengan di Indonesia. Dan mulai dini mereka  bisa belajar tentang pertanian dan perikanan. Jika untuk dunia pertanian, diusia 15 tahun mereka sudah dipersiapkan jika memang mereka mau menjadi petani . Anak-anak disana dengan bangganya berkata “ I want to be a farmer”.  Beda sekali dengan di Indonesia,anak-anak Indonesia sedikit sekali yang mau jadi petani dan nelayan. Di sektor perikanan di Maine lebih gila lagi, nelayan-nelayan muda sangat kaya disana. Anak-anak muda yang berprofesi sebagai nelayan rata –rata sudah memiliki kapal sendiri. Kapal  mereka rata-rata sangat bagus yang menunjang mereka untuk menangkap lobster. Pemerintah State Maine malah justru saat ini pusing karena anak-anak muda di Portland tidak mau bersekolah karena mereka sudah kaya dan mereka bilang kenapa saya harus sekolah kalau saya lebih kaya dari guru saya. Menurut mereka sangat sia-sia pergi ke sekolah, lebih baik menangkap lobster. Sungguh sangat lucu mendengar komentar itu, karena yang terjadi sebaliknya dengan di Indonesia. Di Indonesia anak-anak mudanya paling suka sekolah atau kuliah di bidang pertanian atau perikanan tetapi sedikit sekali yang mau bekerja dan terjun di bidang tersebut, padahal potensi pertanian dan perikanan di Indonesia sangat luar biasa besar. Saya tidak tahu mengapa hal ini dapat terjadi di negara saya, Indonesia.   

Di Indonesia,  ahli-ahli pertanian dan perikanan tidak dihargai, dukungan pemerintah dengan penyediaan teknologi yang memadai juga tidak ada, terlebih kredit dan dukungan keuangan juga sangat minim. Profil petani atau nelayan di Indonesia adalah profesi yang marjinal dan identik dengan kemiskinan. Maka tidak heran jika anak-anak pintar Indonesia, khususnya yang lulusan pertanian, peternakan atau perikanan lebih memilih bekerja di luar ilmu yang didalaminya atau mengabdi di negara lain daripada di negaranya sendiri. Profesi sebagai petani atau nelayan di Indonesia benar-benar profesi buangan yang tidak ada harganya. Namun di Maine, anak-anak muda bangga sebagai petani dan nelayan.  

Saya juga berkesempatan berdiskusi dengan Ketua Asosiasi Nelayan Lobster di Portland, Maine. Sebelum bertemu dengan dia, pada saat membaca jadwal kegiatan yang akan saya lakukan, saya membayangkan seorang Ketua  Asosiasi Lobster pastilah seorang laki-laki yang  tinggi besar,  dan hitam, karena terlalu banyak di lapangan. Ternyata tebakan saya salah, saya begitu kaget waktu bertemu dengan Anne. Ternyata Anne adalah Ketua Assosiasi Nelayan Lobster di Portland, Maine, yang notabene adalah seorang gadis muda yang sangat cantik dan modis. Ternyata di Portland banyak sekali nelayan-nelayan wanita dan rata-rata masih sangat muda-muda.

 

****

Malam kedua di Portland, Pak Hengky mengajak kami menikmati lobster di sebuah restauran di tepi pantai. Sebelumnya Pak Hengky memberi kami waktu istirahat sebentar. Di hotel saya sempat bertemu dengan sekumpulan nenek-nenek.  Mereka menamakan  kelompoknya ini dengan nama sebutan “The Red Hat”. Kelompok ini terdiri dari sekumpulan wanita yang berusia diatas usia 50 tahun. Dress code kelompok ini, para wanitanya memakai baju ungu dan memakai topi berwarna merah,  namun mereka tidak menutup kemungkinan untuk wanita yang berumur di bawah 50 tahun untuk bergabung dengan mereka. Tetapi topinya tidak berwarna merah untuk anggota yang berumur dibawah 50 tahun melainkan mereka akan memakai topi berwarna merah muda.

Saya sempat bercakap-cakap dengan 2 anggota dari kelompok “The Red Hat” ini. Saya sempat bertanya apa tujuan didirikan kelompok ini. Lalu mereka menjawab bahwa sekaranglah waktunya mereka menikmati hidup karena tugas mereka sudah selesai untuk membesarkan anak-anak dan menemani suami mereka. Rata-rata suami mereka sudah meninggal dan anak-anak mereka sudah berkeluarga semua jadi mereka akan mencari teman yang merasa senasib dan sekarang waktunya mereka untuk bersenang-senang menikmati hidup.

Saya melihat mereka ini walaupun tua masih sangat cantik dan modis. Mereka juga terlihat bahagia dan menikmati hidup. Usia yang senja tidak membuat mereka bersedih bahkan mereka bersemangat sekali menikmati hidup mereka. Semangat mereka sangat saya kagumi.

           Pak Hengky sudah menunggu untuk mengajak kami makan Lobster. Ternyata makan Lobster juga membutuhkan perjuangan karena kami harus antri. Banyak sekali pengunjung restauran malam itu. Jadi kami harus rela menunggu. Kami memutuskan untuk menunggu di luar sambil melihat-lihat pemandangan.

Saya juga sempat bercakap-cakap dengan seorang penjual kue yang berjualan di sekitar restauran. Dia bercerita bahwa dia berjualan kue sejak dia bercerai dengan suaminya. Hasil uang penjualan rumah dia gunakan untuk modal dan tabungan buat anak-anak dan dirinya.

Saya sedikit trenyuh sekali mendengar ceritanya. Salut dengan kemandirian dan ketegarannya. Dia tetap bersemangat menjalani harinya walaupun sudah berpisah dengan suaminya, bahkan dia berani menjadi seorang pengusaha.

****

Hari Sabtu benar-benar jadwal yang padat. Karena rasa keingintahuan saya yang sangat besar untuk melihat bagaimana Pemerintah Amerika memperhatikan para gelandangan,  maka Maureen menganjurkan kami untuk mengunjungi “Soup Kitchen”.

Kebetulan  Sabtu pagi sekitar pukul 8.00 pagi waktu setempat “Soup Kithchen” dibuka. Pada saat itu, para gelandangan akan mendapatkan makanan yang sudah di sediakan dan mereka akan makan bersama di “Soup Kitchen”. Maureen menjelaskan bahwa para gelandangan ini sangat sensitif dan merasa malu jika ada orang asing yang melihat mereka. Maka Maureen menjelaskan kepada kami bahwa kami boleh mengunjungi “Soup Kitchen” dengan catatan kami harus menyamar sebagai gelandangan. Ini satu-satunya cara supaya kami  bisa masuk ke “Soup Kitchen” dan para gelandangan itu tidak curiga bahwa kami sedang mengamati mereka.

 Maureen juga memberikan sekian juta warning bahwa kami tidak boleh bicara dan memotret. Kami juga harus berlagak seperti para gelandangan dan juga harus makan bersama dengan mereka supaya mereka tidak curiga dan kami bisa mengamati kegiatan di “Soup Kitchen” sepuasnya.

Kami menyetujui semua persyaratan yang diberikan oleh Maureen. Maka pagi itu saya hanya memakai celana pendek dan sebuah sweater. Saya sempat berpikir apa mereka percaya kalau saya gelandangan?. Tetapi tidak ada pilihan lagi karena baju saya semuanya batik hanya  baju olahraga saja yang saya miliki, jadilah baju untuk olahraga yang saya kenakan  untuk menyamar menjadi seorang gelandangan Amerika.

Saya sempat berpikir bagaimana ya rasanya makan bersama-sama gelandangan Amerika, apa gelandangan di Amerika sama seperti gelandangan di Indonesia. Saya benar-benar tidak sabar waktu itu untuk melihatnya.

Maureen terpaksa memarkir mobil agak jauh dari tempat “Soup Kitchen” dan kami harus berjalan. Kami sudah melihat banyak para gelandangan menuju “Soup Kitchen”. Ternyata para gelandangannya bersih-bersih dan saya sempat heran melihat penampilan para gelandangan Amerika yang tidak jorok seperti tuna wisma di Indonesia. Begitu masuk ke “Soup Kitchen”, Maureen menyuruh saya antri makanan dan masuk barisan bersama para gelandangan yang lain. Maureen sempat memberitahu bahwa jika kita tidak suka makanannya maka kita bilang saja “pass” (lewat).

Saya sempat berpikir makanan apa yang disajikan untuk para gelandangan, dalam hati saya, saya bertanya makanannya enak gak ya nanti. Maureen, saya, Pak Ishaq dan Pak Hengky masuk dalam antrian untuk mengambil makanan.

Setting tempat “Soup Kitchen” ini benar-benar disetting seperti rumah makan. Seluruh makanan tersaji lengkap beserta minumannya juga, ada teh, kopi, susu dan juga bermacam-macam juice. Menu makanannya juga enak-enak seperti spaghetti, pancake, potate pie, mie goreng, sup, dll. Pokoknya makanannya enak-enak dan kebetulan semua kesukaan saya. Jadinya saya mau semua.

Lalu kami duduk bersama dengan para gelandangan itu dan makan bersama. Sayang momen ini tidak boleh difoto. Padahal saya pengen sekali mengabadikan pengalaman ini. Kami makan sambil mengamati bagaimana para gelandangan Amerika itu berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Setelah selesai makan, kami semua keluar dari “Soup Kitchen”.

Dalam perjalanan keluar “Soup Kitchen”, saya, Pak Ishaq dan Pak Hengky sempat berdiskusi bahwa kami kagum dengan pemerintah Amerika, mereka begitu perhatian kepada para gelandangannya. Lalu saya sempat menimpali ke Pak Ishaq kalau di Indonesia dibikin seperti itu ya tidak bisa karena masyarakat kita masih banyak yang hidupnya berada dibawah garis kemiskinan. Pemerintah Indonesia tidak akan mampu membangun tempat seperti “Soup Kitchen” yang memberi makan para gelandangan setiap hari, karena jumlahnya akan sangat banyak sekali, dan budaya kita juga berbeda. Kalo di Amerika, para gelandangan begitu malu jika meminta-minta terang-terangan, tetapi di negara kita para gelandangan tidak akan malu-malu meminta-minta secara terang-terangan di manapun mereka berada.

 *****

Setelah melihat “Soup Kitchen”, kami melanjutkan kunjungan ke “Farmer Market” dan “Fish Market”. Farmer Market ini dibuat secara tidak permanen, mereka membuat pasar ini di akhir pekan disebuah taman kota yang cukup indah. Pasarnya berupa tenda-tenda dan bisa dibongkar. Banyak sekali yang berjualan begitu juga dengan pengunjungnya. Melihat pasar sekaligus menikmati pemandangan taman kota. Suatu ide sederhana yang cukup menarik.

Dipasar ini saya juga sempat ngobrol  dengan anak muda yang berjualan di sini. Mereka bercerita menggunakan waktu liburan musim panas untuk berjualan. Mereka membuat aksesoris dari bahan-bahan daur ulang lalu hasilnya dijual. Hasil penjualannya cukup lumayan. Salut dengan anak muda Portland. Waktu saya bertanya kepadanya, apakah dia berjualan untuk mendapatkan uang yang digunakan untuk membayar sekolahnya. Anak ini menjawab tidak, orangtuanya masih mampu membiayai sekolahnya, hanya saja dia melihat banyak sekali barang-barang bekas yang bisa digunakan. Menurunya, barang-barang bekas tersebut sayang kalau hanya dibuang begitu saja, maka dia menggunakan waktu liburannya untuk membuat aksesoris dari hasil barang bekas dan hasil buatannya kemudian ia jual. Uang hasil penjualannya itu dia tabung untuk tambahan uang saku atau untuk keperluan lainnya supaya dia tidak terlalu banyak meminta orang tuanya. Beberapa anak muda ini  masih duduk dibangku SMA.

  ****

 Kami menuju Fresh Market tempat penjual lobster dan berbagai macam hasil laut. Fresh Market berupa pasar ikan yang bersih dan harga lobster memang sangat murah disini. Ada yang menarik perhatian saya waktu berkunjung di pasar ikan ini. Saya jadi tahu betapa bangganya orang-orang Amerika terhadap bendera mereka. Dimana-mana mereka selalu memasang bendera. Di kantor, dirumah bahkan di pasar pun mereka memasang bendera kebangsaan Amerika.

Tidak jauh dari Fresh Market ini, ada sebuah home industry yang membuat tas yang khas dari kota Portland,Maine ini. Sebuah tas yang dibuat dari bekas-bekas layar kapal-kapal nelayan dengan disain gambar lobster. Usaha ini dikelola oleh anak muda dan skala usahanya lumayan cukup besar, meskipun produk yang dihasilkan merupakan produk yang dikerjakan masih tradisional. Namun sayang sang pemilik home industry ini tidak memperbolehkan saya mengambil foto. Saya hanya boleh melihat-lihat sepuasnya asal tidak mengambil foto. Saya sebenarnya pengen sekali beli tas itu cuma harganya sangat mahal karena memang hasil handmade jadi harganya bisa setara dengan harga tas branded di AS, dan hampir semua penduduk Portland, Maine mempunyai tas cantik ini.

Pelajaran sepanjang hari ini begitu menyenangkan. Banyak sekali tempat-tempat bagus yang saya kunjungi. Benar-benar menyenangkan bagi saya. Namun perjalanan selanjutnya ternyata lebih menantang lagi. Saya berkesempatan menikmati pemandangan laut dengan menggunakan kapal “Lucky Catch Lobstering Cruise” sambil belajar bagaimana menangkap lobster dengan cara tradisional.

Nelayan lobster yang memberikan pelajaran kepada kami namanya Tom, dia dibantu dua orang asistennya, perempuan semua. Untuk menikmati perjalanan ini kami dikenakan biaya sebesar US$25 per orang. Pemandangannya sangat cantik. Di kapal ini saya juga bertemu dengan Julie, teman yang duduk sebelah saya di pesawat dari Chicago-Maine. Julie bersama pacarnya mengikuti perjalanan dengan kapal ini. Kami bahagia sekali bisa bertemu lagi. Sungguh di luar perkiraan.

 

****

Ada cerita lucu yang pada saat kegiatan belajar cara memegang lobster. Beberapa wanita yang ada di kapal ini tidak berani memegang lobster tetapi saya malah bersemangat untuk memegang lobster,  kebetulan saya sedang  “homesick” kangen melihat usaha ikan yang pernah saya kelola.

Saya senang sekali bisa memegang lobster dan memegang aneka ikan. Rasa “homesick” saya tiba-tiba hilang seketika. Asisten Tom bahkan bilang ke saya, dia heran melihat saya sepertinya sudah biasa memegang ikan dan saya tidak kesulitan memegang lobster. Lalu saya cerita bahwa di Indonesia saya mempunyai kolam pemeliharaan ikan lele,  dan saya sudah terbiasa memegang induk-induk ikan lele yang ukurannya sangat besar,  bahkan saya biasa menyuntik ikan indukan lele-lele itu dengan tangan saya sendiri pada saat proses breeding atau memberikan vaksin pada indukan ikan.

Asisten Tom senang sekali mendengar cerita saya bahwa saya juga suka memelihara ikan seperti mereka. Lalu saya diminta untuk memakai baju khusus nelayan dan karena badan saya yang kecil untuk ukuran orang Amerika jadi saya memakai baju yang untuk ukuran anak-anak. Karena saya terlalu bersemangat bermain-main dengan lobster kamera saya rusak karena terpercik dan kemasukan air laut. Terpaksa korban satu kamera.

Benar-benar sangat mengasyikan perjalanan menjadi nelayan lobster. Kali ini Maureen mengajak kami mengunjungi DeLorme, tempat dimana ditemukan bola dunia pertama kali (Globe). Disini juga ada bola dunia terbesar di dunia namanya Eartha.Ada 2 benda yang selama hidup saya ingin sekali saya mengkoleksinya yaitu buku dan globe. Bahkan saya punya impian jika saya mempunyai rumah yang besar dan bagus maka ruang tamunya harus ada perpustakaan dan koleksi globe dalam berbagai ukuran. Tidak tahu mengapa jika melihat 2 benda ini yaitu buku dan globe, saya sangat menyayanginya. Dua benda ini sangat berharga menurut saya.

Karena buku itu jendela dunia, apa saja bisa saya dapatkan dengan membaca buku sedangkan globe itu bisa membuat saya seperti melompat-lompat ke negara-negara yang ingin saya kunjungi. Cita-cita saya sejak kecil memang ingin keliling dunia, bahkan dari kecil saya sangat dikenal sebagai anak yang suka bermimpi.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Maine Light House. Salah satu icon Maine setelah lobster. Perjalanan cukup jauh namun karena pemandangan yang kami lewati sangat indah rasa lelahpun hilang seketika. Maine Light House ini benar-benar sangat indah. Karangnya berbeda dengan karang di Indonesia. Bentuk karangnya persegi-persegi, sangat unik dan indah.  

            Perjalanan terakhir saya di kota ini adalah mengunjungi Freeport yaitu tempat barang-barang branded dengan harga murah. Seluruh kawasan ini banyak outlet-outlet barang-barang bermerk seperti Guci, Coach, Guess, United Colours of Benneton, Calvin Klein dan masih banyak lagi. Di tempat ini saya sangat susah sekali mencari barang yang ada tulisan made in USA. Namun saya sempat bangga karena banyak sekali produk-produk garmen hasil buatan Indonesia banyak dijual disini.

Saya membeli barang-barang made in Indonesia dan India. Karena harga barang-barang branded disini agak murah maka saya sempatkan membeli beberapa barang seperti tas dan baju-baju branded karena selama ini saya jarang membeli baju branded. Karena begitu banyak outlet yang saya kunjungi sampai-sampai saya molor dari waktu yang diberikan dan saya sempat merasa tidak enak dengan Maureen dan Pak Hengky karena saya terlambat sampai di tempat yang  telah disepakati dengan tepat. 

Dalam perjalanan pulang, menuju hotel, Maureen dan Pak Hengky memberitahukan bahwa besok pagi akan terjadi Badai Irene, jadi kita diharapkan untuk tetap tinggal di hotel. Pada saat mereka berdua menjelaskan tentang Badai Irene, saya melihat suasana jalan-jalan yang memang terlihat siaga satu. Pemerintah begitu sigap mempersiapkan segalanya untuk meminimalkan dampak yang akan diakibatkan oleh Badai Irene ini. Petunjuk-petunjuk posko bantuan sudah disiapkan. Penduduk ada yang keluar kota meninggalkan Portland, ada juga yang tetap memutuskan untuk tinggal di kota. Banyak penduduk yang mulai memasang kaca-kaca mereka dengan plastik dan para nelayan memasang karung-karung pasir untuk mencegah masuknya air laut ke pemukiman penduduk. Benar-benar sangat kompak penduduknya. Sepertinya mereka sudah terbiasa menghadapi badai.

 

****

Begitu banyak tempat yang saya kunjungi, membuat saya benar-benar kelelahan. Beruntung sekali hari Minggu tidak ada kegiatan dan pada saat itu memang ada Badai Irene. Suara angin begitu kencang. Saya mencoba melongok suasana di luar dari jendela kamar hotel.  Hujan deras dan angin berputar-putar sangat kencang. Sejujurnya baru pertama kali saya merasa ketakutan melihat suasana seperti ini. Di sinilah saya mulai sadar dan bisa merasakan bagaimana rasanya takut jika menghadapi sebuah bencana alam.

Saya sebenarnya sangat ketakutan, dan bingung, harus bagaimana bersikap saat menghadapi suasana seperti itu sendirian. Saya tidak mungkin mengganggu Pak Ishaq atau Pak Hengky untuk meminta tolong. Jujur, saya juga malu kalau orang lain tahu saya sedang merasakan ketakutan.

Untuk menghibur diri sendiri, saya putuskan untuk membuka laptop dan membuka laman facebook.  Saya mencoba mengontak melalui laman facebook  sahabat-sahabat saya di negara-negara lain. Waktu itu teman saya yang dari India bertanya apakah saya baik-baik saja,  dan saya menjawab saya sedang ketakutan karena ada Badai Irene. Lalu teman saya ini menyarankan untuk mematikan TV, menutup gorden agar saya tidak melihat keadaan luar serta memasang musik-musik kesukaan saya agar suara angin yang begitu kencang itu bisa hilang.

Semua sarannya saya lakukan. Begitu ketakutannya saya, akhirnya saya mencoba berdoa,  dan berkatadalam hati, bahwa saya tidak mau meninggal di negara orang, saya ingin meninggal di negara saya sendiri. Lalu saya juga sempat tersambung secara online dengan sahabat saya yang pernah lama tinggal di Amerika. Dia menyarankan agar saya ke bawah tanah saja biar aman. Lalu saya ingat bahwa di Ground Floor ada fitness center dan kolam renang,  kemudian saya bergegas menuju ke Ground Floor.

 

****

Tepat jam 12 siang waktu setempat, setelah makan siang, saya cepat-cepat menuju ke Ground Floor dan saya menghabiskan waktu saya untuk olahraga,  fitnes. Sambil fitnes saya melihat pertunjukkan opera di televisi. Hari itu hanya saya sendiri yang fitnes. Jadi saya puas sekali dan merasa seperti memiliki fitnes center sendiri. 

Sekitar pukul 3 sore, Pak Hengky juga turun ke Ground Floor dan Fitnes. Lalu saya cerita bahwa saya dari tadi di tempat fitnes ini karena saya takut mendengar bunyi angin yang menderu-deru dengan kencang. Banyak pepohonan tersingkap daunnya, suaranya sangat mengerikan.  

Di Ground Floor, kami fitnes sambil berdiskusi. Tetapi Pak Hengky mengingatkan kami bahwa bercakap-cakap ditempat fitnes ini dianggap tidak sopan di Amerika. Saya baru tahu kalau etika di tempat fitnes seperti itu, tidak boleh bercakap-cakap.

Saya bercerita ke Pak Hengky, saya fitnes selain untuk olahraga juga untuk sosialisasi. Saya di Batam biasa berfitnes di hotel berbintang karena fasilitasnya lengkap. Ada gym, kolam renang, sauna,  plus Jacuzzi. Selain itu fitnes di hotel berbintang bisa menambah relasi saya untuk kalangan menengah ke atas dan rata-rata beberapa teman fitnes saya adalah ekspatriat, jadi saya bisa memanfaatkan momen ini  untuk memperlancar bahasa Inggris saya. Waktu yang sangat terbatas bisa saya manfaatkan untuk berolahraga, bersosialisasi sambil merawat tubuh saya.

Pak Hengky tersenyum mendengar cerita saya, tersenyum karena  saya memanfaatkan fitnes untuk bersosialisasi, sedangkan di Amerika hal seperti itu sangat sulit untuk dilakukan. Lalu saya bercerita ke Pak Hengky, pantas saja saya di Amerika susah sekali mendapat teman di tempat fitnes karena mereka selalu memakai earphone atau membaca buku, jadi saya tidak bisa mengajak mereka berdiskusi.

Setelah selesai fitnes, saya melanjutkan lagi berenang dan bersauna sampai pukul 9 malam. Ini karena saya benar-benar masih takut untuk kembali ke kamar karena suara angin yang menderu-deru masih kencang terdengar. Tepat pukul 9 malam saya baru kembali ke kamar setelah benar-benar lelah berolahraga, meskipun angin dari Badai Irene belum reda.  Jadwal hari Minggu ini benar-benar saya gnakan hanya untuk berolahraga.

Senin Pagi, kami berkunjung ke Port of Portland. Kami banyak berdiskusi dengan Pat Finnigan, Assistant City Manager, City of Portland dan Robert Leeman, Maritime Manager, City of Portland. Pelabuhan Portland ini memegang peranan penting dalam perekonomian di Maine. Pelabuhan ini biasa menangani kapal kontainer sampai dengan kapal-kapal “Luxury Cruise”.

Dua narasumber ini sangat mengasyikkan pada saat berdiskusi, diskusi kami sangat hangat dan serasa seperti kami sudah berkenalan lama. Saya sempat berpromosi tentang Indonesia, saya mengatakan bahwa Menteri Pariwisata Indonesia saat itu, Bapak Jero Wacik, menunjuk “Richard Gere” sebagai Ambassador untuk parawisata Indonesia dan artis Julia Robert pernah melakukan syuting di Bali, dan berharap Indonesia bisa menjadi “Pretty Woman of the World”.Mendengar cerita itu mereka tertawa semua.

Kunjungan berikutnya ke L.L Bean,Inc sebuah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan alat-alat olahraga outdoor seperti alat-alat untuk berburu, keperluan untuk camping, memancing, bersepeda dan masih banyak lagi.

Perusahaan ini sudah berumur 100 tahun lebih dan mereka mengembangkan usahanya dengan membuat suatu divisi baru yaitu L.L Bean’s “Outdoor Discovery” Schoolyang menawarkan kegiatan memancing, outdoor leadership, perkemahan, berkebun, bertani dan masih banyak kegiatan lainnya. Perusahaan L.L Bean ini cukup besar dan mempunyai karyawan sekitar 5.000 orang dan termasuk perusahaan skala besar di Portland, Maine.

 

****

 

Karena kamera saya rusak pada saat saya belajar jadi nelayan lobster,  maka saya meminta Pak Hengky supaya bisa diantar membeli kamera. Pak Hengky kemudian mengajak saya ke Wallmart yang ada di Portland, Maine. Disini setiap pembelian alat-alat elektronik tidak boleh dicoba karena sudah ada garansi 1 tahun, beda sekali dengan di Indonesia walaupun ada garansi tetapi kita tetap boleh mencoba.

 Lalu saya tanya ke Pak Hengky bagaimana kalau kameranya tidak bisa dipakai atau rusak. Pak Hengky lalu menjawab kalau rusak kameranya bisa di bawa kembali ke Wallmart karena ada kartu garansi. Tetapi karena kamera saya memang rusak maka mau tidak mau saya membeli kamera juga. Harga kamera di sini lebih murah daripada harga di Indonesia.

Setelah membeli kamera, kami bertiga memutuskan untuk makan malam di resto yang berada di sebelah Wallmart. Seperti biasa restauran ini menyajikan menu “all you can eat”. Ramai sekali restauran ini dan rata-rata pekerjanya adalah para imigran yang kebanyakan dari Amerika Latin seperti Mexico.

Setelah puas menikmati makan malam, kami memutuskan kembali ke hotel dan pada saat kami bertiga menunggu taksi tiba-tiba ada seorang perempuan tua menghampiri saya. Ia bilang bahwa liontin kalung saya sangat bagus, bahkan dia sempat mendekati saya dan memegang liontin saya yang terbuat dari kristal dan berbentuk sebuah bintang kecil.

 Pada saat wanita ini memegang liontin di leher saya, ia bilang liontin ini seperti saya, kecil dan bersinar, dan dia kemudian berkata bahwa suatu saat nanti saya akan menjadi “super star”. Mendengar ucapan perempuan tua ini saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas pujian yang diberikan kepada saya. Lalu dia dan suaminya berlalu dan pergi meninggalkan saya. Setelah saya sampai di hotel, saya merenungkan kata-kata perempuan tua tadi, mengapa beliau berkata begitu. Saya hanya bisa berdoa semoga apa yang dikatakan perempuan tua tadi bisa menjadi kenyataan.

 

****

Selama tinggal di kota Portland, saya seperti tinggal di kota Batam. Karakteristik kota ini hampir sama seperti kota Batam. Dikelilingi banyak pulau, banyak wisatawan dan pendapatan terbesar dari aktivitas pelabuhan. Senang sekali bisa diberi kesempatan belajar di Portland, Maine dan pengalaman yang paling tidak saya lupakan selama berada di kota ini adalah pengalaman merasakan tinggal di kota yang di landa “Badai Irene”. Mengalami rasa takut yang luar biasa selama hidup saya. Kota tercantik yang pernah saya kunjungi selama di Amerika.

Di kota ini juga saya jadi lebih menyadari betapa cantik dan kayanya negara Indonesia. Saya semakin cinta dan bangga terhadap negara Indonesia. Tidak salah jika Indonesia sekarang menjadi “Pretty Woman of the World”. Waktu kami belajar di kota Portland Maine sudah berakhir dan kami harus pindah ke kota berikutnya.  Berpisah kembali dengan orang-orang yang mulai saya sayangi, adalah hal berat yang harus saya ulangi kembali. Terimakasih Maureen atas bantuan dan ketulusannya memberikan kesempatan belajar kepada kami selama berada di Portland,Maine.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari