Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Bisnis Nata De Coco Kian Besar
Rabu, 09 Mei 2012 14:12 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Arief Rakhman Hakim

Kelapa memang memiliki banyak manfaat, mulai dari daun hingga buahnya bisa menjadi lahan usaha. banyaknya produk turunan yang dihasilkan dari kelapa menyebabkan buah lambang pramuka Indonesia ini disebut sebagai tree of life atau pohon kehidupan.

Indonesia sebagai negara kepulauan dan beriklim tropis menjadi salah satu penghasil kelapa terbesar di dunia. Salah satu daerah penghasil kelapa di Indonesia adalah Ciamis, Jawa Barat, daerah kelahirannya.

 

Membuat Nata De Coco

Ternyata potensi yang ada pada buah kelapa yang besar ini menjadikan Arief Rakhman Hakim (23) pemuda desa asli Ciamis yang lulus  S1 Fakultas Teknologi Industri Pertanian IPB ini tertarik untuk memproduksi nata de coco dengan lebih baik. Inisiatif Arief untuk memulai usaha pembuatan nata de coco ini selain karena pertimbangan biaya modal yang ia keluarkan tidak besar, bahan baku yang tersedia sangat melimpah.

Awal Desember 2009 lalu, Arief  mulai membuka usaha pembuatan nata de coco skala rumahan. Meski industry skala rumahan, namun Arief menerpkan prinsip-prinsip pengolahan bahan pangan yang baik, serta higienis. Cara pengolahan yang higienis dan modern inilah yang membuat para pelanggannya kian banyak, termasuk para tengkulak nata de coco yang dating dari berbagai daerah.

Setelah memiiki pasar yang kian besar, usaha Arief terus merambah melayani pangsa pasar yang kian meluas. Ia mendatangi sendiri para tengkulak /bandar nata de coco yang merupakan salah satu mata rantai tataniaga penting di daerah.

“Saya menawarkan produk yang lebih bersih, higienis, serta relative murah. Saya memberikan potongan harga lagi jika pembeliannya dalam jumlah lebih banyak,” cetusnya.

Strategi ini ternyata cukup jitu agar produknya dapat dapat tersedia di pasar-pasar tradisional di seluruh Jawa Barat. Terbukti para tengkulak dari  Cihampea, Cibeureum, dan Tegal Waru, memburu produknya. Bahkan para tengkulak tersebut ada yang memintanya untuk memproduksi dalam jumlah besar agar dapat mensuplay ke berbagai daerah lainnya.

 

Kendala

Meski produk telah dapat dipasarkan dengan baik, dan kian bertambah banyak, namun ada beberapa kendala yang sebelumnya tidak ia pikirkan, yaitu kendala ketersediaan bahan baku air kelapa.

Ternyata  untuk memperoleh air kelapa dalam jumlah besar tidak segampang yang dipikirkan. Setidaknya setiap minggu  harus tersedia 200 -250 jerigen, atau kira-kira 6250  liter air kelapa setiap minggunya atau kurang lebih 900 liter per hari. Ternyata untuk memperoleh air kelapa sebanyak itu merupakan kendala tersendiri.

Ia akhirnya bekerjasama dengan para pedagang kopra yang ada di pasar-pasar tradisional dengan membeli air kelapa seharga Rp5000 per jerigen. Ia yang menyediakan jerigen, dan mengambilnya setelah penuh.

Namun kendala lain juga tak kalah pentingnya. Ternyata, dengan cara pembelian air kelapa seperti ini kualitasnya tidak sebaik yang diharapkan, termasuk kebersihan, dan kualitasnya.

 “Beberapa kali saya menemukan ada puntung rokok, sayuran, atau serabut kelapa yang terikut dalam jerigen. Saya harus membersihkan terlebih dahulu air kelapa tersebut baru setelah benar-benar bersih dilakukan proses fermentasi,” cetusnya.

Kendala bahan baku dapat diatasi, namun kendala lain kadang datang. Seperti masalah cuaca yang tidak menentu, serta cuaca yang ekstrem akan menghasilkan nata de coco yang kurang bagus kualitasnya. Pembuatan nata de coco yang menghasilkan kualitas terbaik memerlukan suhu yang konstan, antara 22-25 derajat Celcius, sedangkan suhu yang terlalu dingin akan menghasilkan nata de coco yang memiliki kualitas rendah.

 

Dari Produsen Menjadi Trader

Berbagai kendala, meski telah mampu diatasi tetapi sebagai produsen yang mensuplay banyak tengkulak membuat Arief memerlukan energy yang lebih besar untuk menyelesaikan berbagai kendala tersebut.

Ia kemudian lebih banyak mengalokasikan waktunya sebagai pedagang pengumpul nata de coco di daerahnya dari para petani atau produsen plasma yang menjadi mitranya. Ia yang mencari pasar ke berbagai daerah dan sekaligus melayani tengkulak-tengkulak yang datang. Dengan cara ini ia tetap dapat mensuplay para tengkulak untuk memperoleh nata de coco, juga memperluas jaringan pemasaran baru. Hal penting lain yang dilakukan Arief adalah memberikan standar  yang lebih baik, baik kualitas produk maupun higienisnya.

Saat ini ia mampu mengumpulkan nata de coco sebanyak 1000 kg setiap minggunya dari para pengrajin data de coco plasma, dengan harga sebesar Rp15.000 per kg, dan menjualnya kembali kepada para tengkulak dengan harga Rp19.000 per kg.

Saat mengikuti Program Go Entrepreneur yang digagas Pegadaian dan Institut Pertanian Bogor, Arief mengajukan proposal pengembangan usaha dalam program ini. Ia memperoleh bantuan dana sebesar Rp8 juta, yang digunakan untuk membeli mesin potong nata de coco, serta perlengakapan pelengkap lainnya.

Ia berharap dukungan dana dari Program Go Entrepreneur Pegadaian ini akan meningkatkan kapasitas usahanya menjadi lebih besar lagi di masa-masa mendatang. Bagi yang ingin memperoleh informasi lebih lengkap usaha ini dapat menghubungi Arief dengan alamat Jalan Seraung Utama RT 01 RW 10, Desa Cihideung Ilir, Cimapea, Bogor, handphone 085691428550.

 

Cara Membuat Nata de Coco

Peralatan yang diperlukan antara lain : Panci/Langseng dari stenless, Pengaduk/sinduk stenless, Kompor, Timbangan duduk,  Gelas ukur,  Baki plastic, Koran penutup, Karet pengikat, . Rak untuk Baki Plastik, Muk Ukur,  Kain Kassa/Saringan Halus.

Bahan yang diperlukan antara lain : Air Kelapa murni, Gula Pasir/putih,  Za/Urea, Cuka Biang, Bibit Nata De Coco/Sari Kelapa.

 

Cara Membuat

Air kelapa mentah di saring, dan dimasukkan ke dalam dandang/panci ukuran 5 liter/20 liter di masak sampai mendidih 100 derajat celcius, setelah mendidih masukkan gula pasir, untuk dandang/panci 5 liter gula 250 gr, za 0,5 gr, cuka biang 50 cc dan untuk dandang 20 liter x 4 dari dandang/panci 5 liter.

 Air kelapa yang sudah mendidih yang dicampur dengan gula, za, cuka biang masukan ke dalam baki plastik kira 1,2 liter dan harus dipastikan bahwa baki plastik dalam kondisi bersih dan steril dari bakteri.

Baki plastik ditutup dengan menggunakan koran dan pastikan koran pun dalam kondisi steril dari bakteri yang akan mengganggu pertumbuhan nata de coco/sari kelapa, koran harus dijemur dipanas matahari.

Baki-baki ditutup rapat dan disusun di atas rak baki secara rapi dan ditiriskan sampai dingin untuk diberi bibit nata de coco. Pembibitan dilakukan pada pagi hari sekitar jam 5.30-6.30, hasil pembibitan ditutup kembali. Baki hasil pembibitan tidak boleh terganggu apapun, tidak digoyang-goyang, bila ingin melihat hasil nata de koko bisa dilihat pada hari ke 3. Baki hasil pembibitan di biarkan selama satu minggu, Pada hari ke 7 silakan dibuka. Panen.

Panen nata de coco/sari kelapa dapat dinikmati pada hari ke 7. Ciri nata de coco yang baik permukaan rata dan halus. Apabila dari hasil tersebut di permukaannya ada yang berlubang, seperti sisa gunung berapi maka itu dimungkinkan karena baki atau koran yang tidak steril.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari