Tanggal Hari Ini : 16 Dec 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Nanang Kristanto Perjuangan Tak Kenal Menyerah
Rabu, 02 Mei 2012 14:55 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

(Bagian 1 )

Sosok tamu kita kali ini adalah Nanang Kristanto (32), seorang pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang dengan segala keterbatasannya mamberi inspirasi kepada kita bahwa kemauan, semangat yang tinggi, serta bersungguh-sungguh akan menghasilkan karya besar, yang bukan saja memberikan kebanggaan tetapi juga penghasilan yang layak.

Kisahnya sengaja kami tampilkan secara bersambung di Majalah ini untuk memberikan denyut baru di setiap edisi dan perjalanan hidup yang ia lalui. Ia yang cacat sejak kecil, kakinya lumpuh, namun memiliki semangat dan jelajah yang luas melampaui jejak-jejaknya. Dengan keahlian sebagan webdisainer Nanang bukan saja telah menjadi seorang lelaki mandiri, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja bagi 7 orang karyawannya. Berikut kisahnya.  

Sejak kecil, orangtua saya selalu khawatir tentang saya. Jika sekolah saya selalu digendong, atau dibonceng naik kendaraan bermotor, selalu diawasi. Maklum kaki saya lumpuh. Saya tidak dapat pergi sesuka saya. Namun hati saya ingin pergi kemanapun yang saya suka.

Ketika menginjak usia remaja, kira-kira kelas 3 SMA di Aliah Negeri Banyuwangi, saya pernah mencintai seorang perempuan dan mengaguminya. Teman sekolah. Ia anak seorang pejabat di kotaku. Tetapi apalah daya saya yang cacat ini. Beruntung ia tak menampik rasa suka saya kepadanya, tetapi bagaimanapun juga keluarganya merasa risih jika anaknya berteman dengan seorang yang lumpuh seperti saya. Hingga akhirnya kata-kata itu saya dengar sendiri.

“Bagaimana mungkin kamu memiliki pacar seorang yang lumpuh, menolong dirinya sendiri saja tidak bisa, bagaimana harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar ibu anak itu kepada kami berdua.Mendengar hal itu, batin saya menangis. Saya memakluminya, saya menyadari dengan keadaan yang saya miliki. Saya tidak dapat memaksa dan meyakinkan lebih jauh dari apa yang  saya miliki. Namun, hal yang membahagiakan saya adalah wanita yang saya kagumi itu membesarkan hati saya, menghibur saya. Tetap menerima saya ketika bertamu di rumahnya, meskipun orangtuanya selalu melarangnya.

“Jadilah laki-laki. Kamu pasti bisa. Seorang laki-laki itu betanggungjawab kepada keluarganya, menjaga keluarga, mampu menafkahi keluarga, serta memiliki rumah sendiri,” ujarnya. Kata-kata itu membekas dibenak saya. Terpatri kuat. Meskipun saya lumpuh, saya ingin membuktikannya. Saya ingin menjadi seorang laki-laki !. Usai lulus sekolah, teman saya diajak pindah ke suatu kota di luar  Jawa. Orangtuanya memaksnya untuk memutus hubungan dengan saya. Saya kehilangan, saya seperti orang yang tidak memiliki arti. Namun pesannya selalu saya ingat, menjadi penyejuk di tengah retaknya hati. Jadilah lelaki.

Semenjak itulah kesadaran saya timbul. Semula saya yang malas untuk melanjutkan kuliah, seperti tiba-tiba bangkit. Saya ingin kuliah. Saya juga ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya. Saya ingin menjadi lelaki sejati. Sengaja saya mencari universitas yang jauh dari kota saya, Yogyakarta. Agar  saya bebas menjelajah kemanapun saya pergi. Saya juga memilih fakultas yang saya menyukainya, yaitu di jurusan teknik computer. Perkiraan saya, jurusan ini tepat dengan kondisi dan keadaan fisik saya. Akhirnya saya memilih sekolah STIMIK AKAKOM Yogyakarta. 

Saat  menuju Yogyakartapun saya tidak mau ditemani oleh siapapun. Saya ingin membuktikan sendiri, termasuk mendaftar kuliah, mencari kost-kostan, hingga memenuhi kehidupan sehari-hari. Ternyata aku bisa. Aku bisa. Empat tahun saya mampu menyelesaikan  kuliah, hingga akhirnya setelah lulus saya diterima bekerja di sebuah maskapai penerbangan di Yogyakarta sebagai staf biasa, kemudian meningkat menjadi advertising manajer  di Bestcamp Bouraq Indonesia Airlines, Cabang Yogyakarta.

Namun dampak krisis ekonomi yang berlangsung sejak tahun 1997-1999 terus menghantui industry penerbangan, sehingga kondisi  perusahaan tempat saya bekerja semakin melemah. Saya yang awalnya sebagai advertising manager merangkap bekerja apa saja, termasuk dibagian IT  karena sebagaian karyawan sudah banyak yang dirumahkan.

Setahun kemudian saya dipindahkan ke kantor Jakarta. Di sini saya khusus menangani IT. Namun karena krisis masih menghebat, kondisi perusahanpun semakin lemah. Pesawat makin berkurang, karyawan semakin banyak yang meninggalkan perusahaan. Hingga keadaan yang paling pahit pernah saya rasakan. Perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ditengah belitan hidup yang keras, serta biaya makan, serta kost di Jakarta, sementara gaji sudah tidak mengucur lagi, saya memutuskan untuk pindah bekerja ke perusahaan PT Anugerah Dwi Abadi. Di sini saya sebagai disainer pulpen.

Sembari bekerja sebagai disainer di perusahaan pulpen, malamnya saya masih menerima pengerjaan pembuatan website. Berapa harga pembuatan website, saat itu dibayar semaunya yang member order. Tetapi dari sanalah saya belajar menjadi webdisainer secara professional. Kienpun lama-lama semakin banyak, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan kepada pemilik perusahaan untuk mengundurkan diri. Lima kali pengajuan diri saya ditolak, dengan alasan perusahaan sangat membutuhkan. Tetapi ketika saya utarakan agar saya mampu mandiri, baru diluluskan.

Setelah bekerja mandiri, dengan membuka website  www.nanangkristanto.com, yang melayani pembuatan website, graphic design dan multimedia, saya mulai menemukan kecintaan dan harapan.  Saya kemudian mencetak brosur kecil-kecil yang saya bagikan kepada pengendara mobil di lampu-lampu merah di Jakarta atau di bus-bus patas. Banyak orang yang menyangka saya pengemis, padahal saya membagi-bagikan brosur saya.

Dengan berbekal komputer Pentium 2, dengan saluran internet menggunakan Telkomnet Instant   atau Flexy Home, saya melayani pembuatan website klien-klien. Kini sejak saya membuka usaha sendiri sudah ratusan website yang sudah saya buat. Saya merasa perjalanan panjang ini akan terus saya lalui. Tetapi setidaknya kini saya sudah mampu menjadi seorang laki-laki.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari