Tanggal Hari Ini : 16 Dec 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kepedulian Orang-Orang Kaya
Selasa, 01 Mei 2012 15:11 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 Selama di Kalamazoo, saya ditemani oleh 2 orang mahasiswa,  yaitu Justin Losey dan Selva. Ia bertugas menemani dan mendapingi kami ke tempat-tempat pertemuan. Beberapa pertemuan yang kami lakukan selama di Kalamazoo,Michigan antara lain di W.E Upjohn Institute for Employment Research.

Disini kami berdiskusi dengan Randy Eberts (President W.E Upjohn Institute). W.E Upjohn Institute adalah lembaga independen yang fokus pada penelitian yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Mereka fokus juga pada penanganan penggangguran yang banyak terjadi akibat krisis yang melanda di Amerika saat ini.

Kemudian kami melanjutkan kunjungan ke lembaga The Learning Network, Kalamazoo Community Foundation. Kami berdiskusi dengan Mr. Suprotik Stotz-Gosh. Dalam pertemuan ini saya banyak mendapat informasi bahwa lembaga ini fokus pada bantuan untuk pendidikan anak-anak. Mulai dari pendidikan anak-anak tingkat kindergarden (TK) sampai Universitas.

Penduduk Kalamazoo percaya bahwa mereka harus mempersiapkan generasi muda untuk kemajuan kotanya. Oleh karena itu sektor pendidikan digarap dengan sungguh-sungguh, dan dianggap sangat penting untuk mencapai kemajuan perekonomian bagi masyarakat Kalamazoo. Dengan mempersiapkan pendidikan bagi generasi mudanya yang lebih baik maka mereka yakin perekonomian kota ini juga akan menjadi lebih baik. Mereka berpendapat bahwa sektor pendidikan sangat berpengaruh besar terhadap sektor perekonomian.

Perjalanan selanjutnya melakukan kami visit ke kota kecil yang terdapat universitas yang sangat terkenal yaitu Western Michigan University (WMU). Kota ini memang terkenal sebagai kota pendidikan. Kampusnya sangat nyaman, besar, bersih dan lengkap. Saat menginjakkan kaki di universitas ini saya sempat mengingat masa lalu saya ketika masa-masa kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Saya teringat, untuk dapat kuliah dan menempuh pendidikan tinggi di Indonesia begitu sulitnya, terutama untuk  keluarga yang tidak memiliki biaya cukup. Saya harus kuliah sambil bekerja supaya saya memiliki uang untuk membayar biaya kuliah, agar tidak membebani orangtua dan kakak-kakak saya.

Impian saya untuk melanjutkan S-2 juga kandas karena saya memutuskan menikah muda. Walaupun begitu saya bersyukur, saat ini saya diberi kesempatan berkunjung ke universitas yang sangat terkenal di Michigan. Bahagia sekali pada saat bisa berkunjung ke Western Michigan University. Serasa merasa menjadi mahasiswa kembali.

 

Kalamazoo Islamic Centre.

Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke masjid selama di Amerika. Kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jumat. Rekan saya, sesame peserta IVLP, Pak Ishaq melaksanakan sholat Jumat. Saya dan Selva menunggu di dalam masjid di bagian wanita. Saya baru tahu kalau di Amerika, wanita banyak yang mengikuti sholat jumat. Selama ini saya hanya tahu sholat jumat yang diadakan di Indonesia hanya diikuti oleh para lelaki. Saya tidak tahu dalilnya mengapa wanita di Indonesia tidak mengikuti sholat jumat.

Karena saya tidak membawa mukena maka saya tidak sembahyang. Lalu saya memberi saran kepada Selva supaya masjid di AS menyediakan mukena agar musafir-musfir seperti saya yang mau sembahyang tapi tidak membawa mukena dapat melaksanakan sholat dengan mukena yang disediakan oleh pihak masjid. Saya memberi contoh Masjid di Indonesia rata-rata menyediakan mukena. Karena saya tidak bisa sembahyang maka saya pergi ketempat bermain anak-anak.

Anak-anak kecil di AS dilatih mandiri sejak belia, saat orangtua mereka sedang sholat maka anak-anak bisa menunggu di ruang serbaguna yang disediakan dan mereka bisa bermain di situ. Akhirnya saya bermain dengan anak-anak kecil ini. Ya daripada bengong lebih baik saya menjaga mereka dan mengajaknya bermain.

Perjalanan selanjutnya saya menuju lembaga Kalamazoo Promise. Di Kalamazoo Promise ini kami berdiskusi dengan Bob Jorth. Selama berdiskusi dengan Bob, saya semakin kagum dengan kota ini. Karena banyak orang-orang kaya yang baik hati di kota ini. Orang-orang Kalamazoo yang sukses seperti memiliki beban moral untuk menyumbangkan sebagian uangnya agar anak-anak di Kalamazoo bisa bersekolah, misalnya dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak di kota ini. Beasiswa diberikan bukan hanya kepada anak-anak dari orangtua yang tidak mampu, tetapi anak-anak dari orangtua yang mampu pun bisa memperoleh beasiswa dari lembaga ini. Sungguh luar biasa.

Pada saat saya bertanya bagaimana caranya agar orang-orang kaya ini mau menyumbangkan uangnya untuk anak-anak di Kalamazoo, Bob menjelaskan bahwa orang-orang kaya itu tidak pernah dipaksa atau diminta untuk menyumbang, mereka secara sadar mengerti bahwa agar perekonomian di kotanya menjadi maju maka investasi yang terpenting adalah mempersiapkan generasi mudanya untuk belajar dan memperoleh pendidikan dengan baik. Karena itu sektor pendidikan di anggap sangat penting dalam kemajuan kota Kalamazoo.

Lebih gila lagi, Bob menceritakan bahwa di kota Kalamazoo ada 3 bilyuner yang akan mewakafkan seluruh hartanya jika bilyuner tersebut meninggal dunia. Mereka, para bilyuner tersebut menyatakan melalui pengacaranya bahwa meskipun para bilyuner ini nantinya telah meninggal, mereka tetap menjamin bahwa mereka tidak akan berhenti menyumbang untuk pendidikan bagi anak-anak Kalamazoo.  Sunggah fantastis.

Orang-orang kaya tersebut menjamin bahwa mereka akan tetap menyumbangkan uangnya meskipun mereka nanti telah meninggalkan dunia ini,  dan Bob menambahkan bahwa bilyuner-bilyuner ini tidak ingin diketahui oleh para Pengurus Kalamazoo Promise walaupun mereka sudah menyumbangkan dananya dalam jumlah yang sangat besar.

Setelah mendatangi beberapa lembaga, saya memperoleh banyak pelajaran dari kunjungan ini. Saya berkesempatan untuk berjalan-jalan melihat kota ini, melewati daerah yang sebagian besar dihuni oleh warga Afro Amerika.  Saya mencoba mampir ke supermarket dan membeli makanan cepat saji yang ada di supermarket tersebut. Saya berfikir, di hotel tersedia microwive yang dapat saya gunakan untuk membuat makanan cepat saji yang saya inginkan.

Supermarket di kota ini begitu banyak menjual macam-macam wine dengan harga yang sangat murah. Ya, Michigan terkenal sebagai kota wine. Saya juga sempat melihat lagi produk Liquid Smoke & Briquette dijual di Supermarket ini. Waah saya sangat tertarik dan mulai penasaran darimana Liquid Smoke & Briquette ini didapat, apakah dari China atau dari Korea Selatan?

Setelah sempat berbelanja makanan kami kembali ke hotel tetapi melewati jalan yang berbeda. Kesan kota Kalamazoo yang sangat rapi dan sepi tetap tidak berubah di semua jalan yang saya lalui. Di sini jarang sekali mobil lalu lalang seperti kota-kota di Indonesia. Juga tidak ada kendaraan sepeda motor yang menyemut. Benar-benar lenggang.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari