Tanggal Hari Ini : 30 Jul 2014 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Dikira Orang Kaya
Selasa, 01 Mei 2012 11:55 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 Oleh Lusi Efriani, Wartawan WK

Perjalanan udara dari Tokyo Jepang ke Washington, DC di Amerika Serikat membutuhkan waktu hampir 17 jam dengan pesawat United Airline. Di pesawat, saya duduk bersebelahan dengan gadis muda asal Jerman. Sepanjang perjalanan gadis muda ini tidur terus dan tidak pernah makan. Jadi saya tidak bisa ngobrol dengannya sepanjang 17 jam tersebut. Untunglah saya membawa buku “Life for Happiness” tulisan Irma Sustika.

Life for Happiness bercerita tentang perjuangan seorang janda yang harus berjuang membesarkan kedua anaknya, juga perjuangan bagaimana harus ditinggal anak terkasih karena menjadi korban tabrak lari, serta berbagai masalah kehidupan yang ‘berat’ di ibukota. Semua dilalui dengan kesabaran, kerjakeras, ketekunan, dan terus membangun kesadaran untuk menggapai mimpi sukses yang diinginkan. Pengalaman pengalaman pahit itu akhirnya dapat ia lalui, dan berujung kepada kebahagiaan. Ya kebahagiaan.

Meski waktu perjalanan yang cukup lama sudah saya hibur dengan membaca buku, toh jenuh juga terus berlama-lama duduk di dalam kabin pesawat. Pantat terasa panas, pegal, dan bosan. Namun antara bosan dan rasa penasaran untuk cepat sampai Washington,DC terus membuncah dan membuat hati terus terasa gelisah.

Akhirnya saya sampai juga di Dulles Airport, Washington, DC. Bandar udara internasional yang menjadi salah satu pintu dunia. Di Washington DC saya bisa melewati imigrasi dengan mudah. Saya tidak pernah membayangkan urusan akan semudah ini. Saya sering mendengar perlakuan petugas imigrasi Amerika sering berlebihan dan sangat teliti. Hal ini betul-betul tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Petugas imigrasi yang memeriksa saya adalah seorang wanita yang enerjik. Sambil melihat paspor saya, dia bertanya tentang maksud kedatangan saya ke Amerika. Saya menjawab, pemerintah Amerika mengundang saya untuk melakukan studi banding bidang “Economic Development”.

Begitu dia melihat paspor saya dan melihat banyaknya stempel pada paspor dan visa  ke China, ia berkata,” Anda pasti anak orang kaya, sering sekali anda berkunjung ke negara Singapore, Malaysia dan China”.  Saya diam saja, tidak menjawab juga tidak mengiyakan. Namun dalam hati saya tertawa. Saya sengaja diam dan tidak menjawab biar urusan cepat selesai dan paspor saya dapat segera distempel.

Sebenarnya mulut saya sempat mau berucap kalau saya bukan anak orang kaya. Saya sering pergi ke Singapore dan Malaysia karena saya tinggal di kota Batam, di pulau yang posisinya sangat dekat dengan kedua negara tersebut. Saya membiarkan prasangkanya terus liar terhadap saya.  Namun syukurlah urusan di imigrasi dapat diselesaikan dengan mudah.

 

White House Itu

Kedatangan saya di Bandar Udara Dulles, Washington, DC dijemput oleh Hengky Chiok (45), seorang penerjemah yang ditugaskan oleh  Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat untuk mendampingi kami selama di Amerika. Pak Hengky adalah orang Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Amerika dan telah bertugas di Kementrian Luar Negeri AS lebih dari 10 tahun sebagai penerjemah untuk peserta IVLP dari Indonesia.

Dalam perjalanan menuju hotel, tempat saya menginap,  Pak Hengky bercerita bahwa hotel yang disediakan adalah Club Quarters Hotel,  letaknya sangat dekat dengan White House. Wooow White House. Sejak saya sekolah di sekolah lanjutan, hingga kuliah di perguruan tinggi, saya sudah sering mendengar Gedung White House ini. Namun kini saya benar-benar berada di dekatnya dan dapat melihat dengan mata kepala sendiri.

Ketika sampai di hotel, saya memutuskan untuk berjalan-jalan melihat taman kota sekaligus melihat White House, serta mampir ke restauran bernuansa Melayu, di jarak tak seberapa jauh dari gedung fenomenal itu. Saya kagum dengan suasana kota  Washington DC yang bersih, aman, dan warga kota juga ramah. Indonesia pernah dikenal sebagai bangsa yang ramah, namun akhir-akhir ini banyak bangsa lain miris melihat berbagai kerusuhan dan kebrutalan yang sering terjadi di Indonesia. Bahkan ada kosa kata baru yang terlahir dari suasana buruk Indonesia, yaitu amuk. Kota Washington, DC diitata sangat bersih dan rapi, dan ramah bagi penghuni dan pengunjungnya.

Ketika saya melihat dari dekat gedung White House, jujur saya tidak percaya, dan bertanya dalam hati. White House ternyata tidak semegah yang saya banyangkan. Masih lebih megah Istana Negara Indonesia yang berada di Jalan Merdeka Utara, Jakarta. Setelah melihat White House saya mulai menyadari bahwa Indonesia memiliki Istana Negara yang lebih megah dan indah daripada White House.

Di Amerika, White House dijadikan obyek wisata, bahkan tak jauh dari sana juga ada White House Gift Shop”. Disini banyak sekali dijual cinderamata bertuliskan White House dengan harga relative sangat mahal untuk ukuran kantong saya. Ada yang menarik perhatian saya ketika berada di White House Gift Shop ini, ternyata hampir semua cinderemata yang dijual buatan China, atau bertuliskan Made in China. 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari