Tanggal Hari Ini : 16 Dec 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Bertemu dengan Anak-anak Muda Pemberani
Selasa, 01 Mei 2012 11:45 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Saya bersyukur  selama di Jakarta banyak sekali orang-orang yang selalu membantu saya. Di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, saya bertemu dengan Dini, seorang teman lama yang sama-sama pernah berangkat ke Shanghai mengikuti sebuah acara gathering business di sana. Kami berdua sering terlibat diskusi berbagai hal, dan merasa cocok karena sama-sama masih berusia muda.

Saat di Shanghai, China,  saya pernah mengutarakan tentang mimpi-mimpi saya. Mimpi untuk meraih sukses, mimpi untuk menjadi insan yang berguna, bahkan mimpi suatu saat akan datang ke Amerika Serikat.  Kami menghabiskan waktu 1 jam lebih untuk mengenang kembali keinginan dan mimpi yang kami retas bersama. 

Waktu menunjukkan tepat jam 12 malam ketika pesawat Garuda Indonesia membawa saya dari Jakarta ke Tokyo.  Perjalanan Jakarta-Tokyo membutuhkan waktu 5 jam.  Lima jam perjalanan udara ternyata terasa tak lama. Jemu justru saat setelah tiba di bandara. Di bandar udara  internasional Narita, Tokyo, yang megah,  ternyata waktu lima jam adalah waktu yang menjemukan untuk menunggu melanjutkan perjalanan ke Washington DC. Saat kejenuhan itulah saya sempat berkenalan dengan 2 anak muda asal Indonesia, saya juga berkenalan dengan anak muda dari Vietnam dan seorang yang usianya cukup tua asal Amerika Serikat.

Bertemu banyak anak muda yang pemberani di ruang tunggu bandara Narita sangat menyenangkan bagi saya.  Seorang gadis muda, asal Jakarta, Inge namanya, adalah seorang guru piano. Menurut penuturannya, ia ke Amerika Serikat karena ingin melanjutkan kuliah di Program Magister di Florida atas undangan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat. Keinginannya untuk belajar sekaligus bisa mengajar les privat piano di negeri Paman Sam adalah tantangan yang ingin dilakukannya.

Saya bertemu satu lagi gadis asal Indonesia, Alfiah Wardah, seorang IT Programmer di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Wardah terlihat mandiri meski melakukan perjalanan seorang diri. Ini menandakan bahwa ia  wanita kuat dan mandiri. Dalam perjalanan melakukan business trip ke Minnesota, AS, ia terlihat sangat menikmatinya.

Saya juga berkenalan dengan seorang laki-laki muda asal Vietnam, namanya Nguyeng Nu. Menurut penuturannya, kedatangannya ke Amerika karena ia akan melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana strata 1 di Iowa. Satu lagi seorang lelaki tua yang saya kenal, yang akan melanjutkan penerbangan ke Alaska. Sepintas kesan yang saya tangkap adalah, mereka-mereka adalah para pemberani yang suka menjelajah dan merantau ke penjuru dunia.

Karena waktu transit yang cukup lama, kadang  kami selalu bersama-sama kemana-mana. Saat waktunya makan siang, kami datang ke sebuah café, memesan makanan santap siang ala fastfood sembari menceritakan pengalaman masing-masing.

Kepada Nguyeng Nu (22), saya sempat melontarkan kata-kata kepadanya. “Wah Nguyeng pasti memiliki banyak uang karena dapat melanjutkan kuliah di Amerika”. Lantas, Nguyeng bercerita,  orangtuanya memiliki usaha toko kelontong yang tak terlalu besar, namun karena biaya kuliah yang diperlukan cukup besar, maka orangtuanya terpaksa menjual rumah warisan yang dimilikinya. Orangtuanya memutuskan untuk menjual rumah warisan agar anaknya dapat melanjutkan kuliah. Saya sempat terharu mendengar cerita Nguyeng ini, demi pendidikan anaknya, orangtuanya rela menjual harta paling berharga yang dimilikinya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari