Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Sejak SMA Sudah Menjadi Produsen Jamu
Kamis, 12 Mei 2011 21:41 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

      Membayangkan seorang Masyhari muda, ketika masih di usia sekolah SMA, tiga puluhan tahun yang lalu,  ia adalah sosok seorang anak muda yang kreatif, memiliki ikhtiar yang luas, berkemauan belajar yang tinggi,  sembari berupaya memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri secara mandiri. Sejak kelas 1 SMA Masyhari sudah mampu mencari uang sendiri, bukan hanya untuk sekedar hidup, tetapi terus ia kembangkan sambil menyelesaikan sekolahnya.

Saat kelas 2 SMA misalnya, Mashary sudah mampu menjadi sales produk elektronik, dan tidak tanggung-tanggung, dalam sehari  ia mampu menjual produk elektronik sebesar Rp70ribu.  Pada saat itu jumlah sebesar itu termasuk cukup besar, karena harga sepeda motor saja masih Rp150ribu.   Penghasilannya sebagai sales produk-produk elektronik membuat Masyhari berkecukupan secara materi, termasuk untuk membayar sekolahnya sendiri, membayar kontrak rumah, serta membeli sepeda motor untuk menunjang aktifitasnya sehari-hari. 

Namun Masyhari memiliki cita-cita, ingin memiliki produk sendiri, yang dibuat sendiri, dan dengan kemampuannya sebagai sales yang telah dijalaninya selama ini ia berharap mampu menjual produknya dengan baik. Suatu hari, saat istirahat sekolah, ia menemukan sebuah buku kusam berisi resep-resep pembuatan jamu tradisional.

Melalui buku resep pembuatan jamu itulah Masyhari, dengan modal Rp16 ribu  mencoba membuat jamu dari bahan dedaunan dan akar-akaran yang dibeli di pasar. Jamu hasil racikannya yang dibuat berdasarkan resep yang diperolehnya dari buku tersebut kemudian diberikan resep cara pembuatan dan pemakaiannya dengan selembar kertas foto copy.

“Jamu tersebut saya tawarkan ke para tukang becak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya. Menurut pengakuan para tukang becak (saat itu Jakarta masih ada becak)  jamu yang diminum membuat badan lebih segar dan vitalitasnya meningkat,” ujarnya.

Ia berfikir, jamu yang dibuat dan dikemas sederhana dengan harga Rp5000 per bungkus tersebut dapat dijual ke apotik-apotik, namun nyatanya tidak ada apotik yang mau menerima produknya untuk membantu menjualkan, bahkan banyak apotik yang menolaknya.

 

Strategi Berbisnis

                Bagaimana agar produk jamunya dapat dijual di apotik agar masyarakat yang memerlukan mudah mencarinya jika diperlukan. 

Agar produk jamunya dapat dijual di apotik bukan  langkah yang mudah. Suatu hari banyak pelanggannya yang datang kepadanya untuk membeli jamu buatannya. Namun ia  meminta para pelanggannya datang saja ke apotik-apotik barangkali ada jamu buatannya yang dijual di apotik-apotik tersebut.

Tentu saja pemilik dan pengelola apotik kebingunan mengapa banyak orang yang mencari jamu tersebut di apotik. Sebagian ada yang teringat pernah ada anak-anak seusia SMA yang menawarkan jamu untuk dijualkan produknya di apotik.

Saat Masyhari mendatangi apotik-apotik kembali untuk menawarkan produknya agar dibantu dijualkan di apotik-apotik tersebut,   kali ini mudah, dan hampir semua apotik mau menerimanya. Pada bulan-bulan pertama produk jamunya dijual melalui jaringan apotik-apotik, penjualannya meningkat.  Bahkan pengelola apotik sempat memerahinya karena terlambat mengirim jamu ke apotik-apotik. Di sinilah, Masyhari yang saat itu masih kelas 3 SMA  belajar mengenai kontinuitas produk. Ketika produk sudah mulai banyak dicari orang, ketika jaringan sudah dibentuk maka kontinuitas produk harus dijaga agar masyarakat yang mencari produk tersebut tidak kecewa jika tidak menemukannya. Belakangan, setelah beberapa bulan berjalan menitipkan produknya melalui apotik-apotik, saat itu penjualan produk jamunya menurun. Para pemilik dan pengelola apotik komplain dan memarahinya.

“Saya bingung, produk jamu laku dan kehabisan dimarahi (oleh pengelola apotik), barang tidak laku juga dimarahi. Melalui para pemilik apotik saya belajar tentang arti pentingnya promosi,” ujarnya. 

 

Ditangkap Petugas POM

Jamu yang Masyhari produksi laku keras di apotik-apotik. Meskipun hanya dengan bungkus plastik sederhana, dengan petunjuk pemakaian dan resep dari kertas foto copy. Ia juga sudah mempekerjakan beberapa orang tenaga kerja yang membantu menjalankan usahanya. Boleh dibilang, meski baru kelas 3 SMA, namun Masyhari sudah memiliki beberapa karyawan yang bekerja kepadanya, meski bekerja mempersiapkan produk jamu dilakukan di ruang sempit rumah kontrakannya.

Suatu saat petugas POM mendatangi sebuah apotik dan menanyakan izin-izinya usahanya. Ia dipanggil untuk datang ke apotik tersebut. Betapa kagetnya petugas POM tersebut karena yang datang adalah seorang anak yang masih berseragam SMA.

“Saat itu saya masih memakai seragam sekolah, saya ditanya ini usaha siapa. Saya jawab usaha saya sendiri. Mana izin-izinnya, saya jawab saya belum tahu kalau usaha ini harus ada izinnya,” ujarnya. Dari peristiwa tersebut Masyhari baru menyadari perlunya kelengkapan administrasi, termasuk izin-izin yang diperlukan untuk memproduksi usaha jamu. Meski saat itu banyak kendala dalam menjalankan bisnis jamunya, namun Masyhari yakin bahwa industri jamu memiliki prospek yang sangat baik di Indonesia, karena selain memiliki bahan baku yang sudah teruji secara khasiat dan manfaatnya, seperti temulawak, jahe, kencur, dll, yang sejak turun temurun dan nenek moyang sudah sangat manjur digunakan oleh masyarakat.

 

Jamu Djiwo

Setelah banyak belajar, dan tersandung berkali-kali, kini usahanya jamunya melejit, lewat berbagai produk yang sangat banyak dikenal oleh masyarakat dibawah produk PT Hari Fatma dan  PT Dila Hijau Farma, salah satu brand yang cukup dikenal masyarakat adalah jamu Djiwo, Jamu Khusus Pria JKP, serta Tsu Zhi. Produk-produk jamu tersebut telah tersedia di berbagai apotik di seluruh Indonesia dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Bahkan kini, ia tengah menjajaki ekspor ke Malaysia.  

Menurut Masyhari, ia selalu menjaga kepercayaan konsumen menjaga kualitas produk jamu hasil produknya.  Bagi seorang pebisnis kepercayaan adalah suatu keniscayaan, tanpa kepercayaan bisnis tidak akan berkembang dengan baik. Dengan adanya kepercayaan menjadikan urusan bisnis jadi mudah  kalau banyak orang yang percaya.

Produk-produk  jamu yang dihasilkan oleh Masyhari  telah mendapat sertifikat  Badan POM, dan kualitasnya tidak kalah dari pada produk impor.  Kini, buat apa beli produk impor kalau yang lokal saja sudah bagus kualitasnya. Terbukti  penjualan produk jamu hasil ramuannya semakin meningkat dari hari ke hari.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari